Harga properti yang terus melambung membuat banyak Gen Z dan Milenial di Indonesia makin sulit menjangkau rumah. Di saat pendapatan pekerja muda belum bergerak secepat biaya hunian, pilihan yang paling realistis justru bergeser ke cara memaksimalkan ruang yang sudah ada.
Perubahan itu terlihat dari kebiasaan baru yang tumbuh di kalangan generasi muda. Kamar tidur tidak lagi dipandang semata sebagai tempat istirahat, melainkan juga ruang kerja, ruang belajar, dan area beraktivitas di rumah.
Harga naik, kemampuan beli tertinggal
Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan Gen Z menerima upah rata-rata Rp1,68 juta hingga Rp2,28 juta per bulan, atau sekitar Rp20,1 juta per tahun. Sementara itu, Milenial mencatat pendapatan rata-rata lebih tinggi di kisaran Rp3 juta hingga Rp3,7 juta per bulan, atau Rp44,4 juta per tahun.
Kesenjangan tersebut membuat kepemilikan properti terasa semakin berat. Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia yang dihimpun Global Property Guide pada Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan tahunan indeks harga properti residensial di Indonesia terus melemah sepanjang 2024 hingga 2025.
Angkanya turun dari 1,46 persen pada kuartal III 2024 menjadi 1,39 persen pada kuartal IV 2024. Perlambatan itu berlanjut ke 1,07 persen pada kuartal I 2025, lalu 0,90 persen pada kuartal II 2025, 0,84 persen pada kuartal III 2025, dan 0,83 persen pada kuartal IV 2025.
Meski pertumbuhan harga melambat, rumah tidak otomatis menjadi lebih mudah dibeli. Pada kuartal III 2025, harga properti nasional justru tercatat turun riil rata-rata 1,57 persen per tahun.
Akses pembiayaan ikut menekan
Selain harga jual, akses pembiayaan juga menjadi tantangan tambahan bagi pembeli muda. Dalam survei Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 oleh IDN Research Institute, tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan pada pembiayaan rumah naik dari 2,51 persen pada 2024 menjadi 3 persen pada 2025.
Angka itu kembali meningkat menjadi 3,14 persen pada Februari 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan hunian bukan hanya soal menabung, tetapi juga soal cicilan, bunga, dan kemampuan bayar yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan tempat tinggal.
Ruang tinggal dibuat lebih personal
Di tengah tekanan tersebut, banyak Gen Z dan Milenial memilih langkah yang lebih realistis. Mereka tidak lagi hanya mengejar rumah sebagai aset besar, tetapi berusaha membuat ruang tinggal yang lebih nyaman, fungsional, dan sesuai gaya hidup.
Pola itu tampak dari meningkatnya minat terhadap konten dekorasi kamar, penataan ruang kerja di rumah, dan renovasi hunian sewa di media sosial. Gaya hidup ini membuat rumah estetik muncul sebagai bentuk adaptasi atas keterbatasan kepemilikan hunian.
Laporan Mordor Intelligence pada 2026 juga menunjukkan penjualan properti secara online menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat. Di sisi lain, segmen furnitur kamar tidur diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 4,95 persen hingga 2031, sejalan dengan kebutuhan generasi muda yang ingin ruang tinggalnya terasa lebih personal.
Temuan IDN Research Institute sendiri menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah, termasuk Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Gambaran itu menunjukkan bahwa krisis keterjangkauan rumah mendorong perubahan perilaku hidup yang makin nyata di kalangan generasi muda.
Source: www.idntimes.com





