Tekanan pada rupiah makin terasa saat dua mata uang tetangga sama-sama mencetak level baru terhadap rupiah. Dolar Singapura kini menembus Rp14.000, sedangkan ringgit Malaysia melampaui Rp4.500 dan ikut menambah daftar titik terlemah rupiah.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah melemah 0,52% ke Rp14.000 per dolar Singapura. Pada saat yang sama, rupiah juga turun 1,01% ke Rp4.502,95 per MYR pada pukul 09.47 WIB.
Bagi pasar, angka Rp14.000 per SGD menjadi penanda penting karena untuk pertama kalinya rupiah menyentuh level itu. Pelemahan terhadap dolar Singapura sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, sehingga tekanan yang muncul kali ini tidak datang secara mendadak.
Pergerakan terhadap ringgit pun memperlihatkan arah yang serupa. Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 9,91% terhadap ringgit Malaysia, sehingga posisi saat ini menjadi cerminan tekanan yang terus menumpuk.
Jika melihat posisi akhir 2025, rupiah masih berada di Rp12.957,64 per SGD. Dari level itu, pelemahan sepanjang tahun berjalan telah mencapai sekitar 7,97% terhadap dolar Singapura.
Situasi terhadap ringgit juga berubah cukup cepat dalam waktu singkat. Pada 1 Mei 2026, rupiah masih berada di Rp4.343,24 per MYR, lalu dalam kurang dari 30 hari turun sekitar 3,68%.
Ringgit mendapat dukungan dari kinerja perdagangan Malaysia
Di saat rupiah tertekan, ringgit mendapat sokongan dari kondisi perdagangan Malaysia yang masih relatif sehat. Data Department of Statistics Malaysia menunjukkan total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi MYR273,0 miliar.
Angka itu naik dari MYR249,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor Malaysia ikut tumbuh 8,3% menjadi MYR148,8 miliar, sementara impor naik 10,4% menjadi MYR124,2 miliar.
Malaysia masih membukukan surplus perdagangan sebesar MYR24,6 miliar pada Maret 2026. Surplus itu memang menyempit 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tetapi tetap memberi dukungan bagi ringgit.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ekonomi Malaysia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Estimasi awal menunjukkan pertumbuhan PDB Malaysia pada kuartal I-2026 berada di atas 5%.
Ia juga menyebut ekspor nominal Malaysia tumbuh 12,7% pada kuartal I-2026. Laju itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 11,0% pada kuartal sebelumnya.
Faktor domestik ikut menekan rupiah
Dari sisi Indonesia, pasar masih mencermati kekhawatiran atas pengelolaan fiskal dan beban sejumlah program pemerintah yang dinilai besar. Kondisi itu ikut membebani persepsi investor terhadap rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Sorotan lain datang dari posisi defisit APBN pada 2025 yang tercatat mencapai 2,92% terhadap PDB. Angka tersebut sudah sangat dekat dengan batas maksimal defisit dalam undang-undang, yakni 3% terhadap PDB.
Kedekatan terhadap batas itu membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Dalam situasi seperti ini, kepercayaan investor menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan stabilitas rupiah.
Source: www.cnbcindonesia.com






