Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Terseret Tekanan Suku Bunga The Fed yang Tak Mereda

Rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan yang cukup dalam, turun 72 poin atau 0,40 persen ke level Rp17.931 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.859. Pergerakan ini menunjukkan betapa kuatnya tekanan dari luar negeri terhadap mata uang Garuda pada awal perdagangan.

Faktor utama yang menekan rupiah adalah menguatnya dolar AS di tengah sentimen menghindari risiko atau risk-off yang masih dominan di pasar global. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah sejalan dengan investor yang kembali mencari aset aman ketika bayang-bayang suku bunga tinggi di Amerika Serikat belum juga hilang.

The Fed Masih Jadi Arah Utama Pasar

Pasar global kini menaruh perhatian besar pada proyeksi Federal Reserve yang diperkirakan tetap menjaga kebijakan ketat dalam waktu yang panjang. Salah satu perhatian utamanya adalah perkiraan kenaikan suku bunga dana federal hingga 2027 untuk menahan inflasi di Amerika Serikat.

Dalam proyeksi terbaru, suku bunga dana federal diperkirakan berada di 3,8 persen pada akhir 2026, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,4 persen. Untuk akhir 2027, proyeksinya juga naik menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 3,1 persen, sementara tingkat jangka panjang tetap dipertahankan di 3,1 persen.

Perkiraan tersebut mendorong arus modal kembali ke aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam posisi yang lebih rentan karena minat investor bergeser ke instrumen dengan imbal hasil yang dianggap lebih menarik di Amerika Serikat.

Lukman menyebut rupiah masih berpeluang melemah terhadap dolar AS yang tengah menguat. Menurut dia, sentimen risk-off global akibat kekhawatiran suku bunga tinggi masih menjadi penahan utama bagi ruang penguatan rupiah.

Penopang dari Dalam Negeri Belum Cukup Mengubah Arah

Di tengah tekanan eksternal tersebut, rupiah masih memperoleh penyangga dari sentimen domestik. Koreksi mata uang Garuda pada perdagangan hari ini tertahan setelah Morgan Stanley Capital International atau MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang.

Keputusan itu memberi kepastian bagi investor institusi internasional untuk tetap menanamkan modal di Indonesia. Lukman menjelaskan bahwa pertimbangan MSCI mencakup fundamental ekonomi yang kuat, likuiditas dan kapitalisasi pasar yang memadai, serta keberhasilan reformasi pasar modal oleh otoritas yang dinilai meyakinkan investor institusi.

Status pasar berkembang juga penting bagi persepsi investor terhadap prospek pasar keuangan domestik. Di saat pasar global cenderung berhati-hati, sinyal seperti ini membantu menjaga kepercayaan terhadap aset Indonesia meski belum cukup kuat untuk membalik arah rupiah pada pembukaan perdagangan.

Pasar Masih Menunggu Arah Baru

Pergerakan rupiah kali ini memperlihatkan betapa besar pengaruh ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat terhadap mata uang kawasan. Selama pasar meyakini The Fed akan tetap bertahan dengan kebijakan ketat, dolar AS masih berpeluang mempertahankan dominasinya terhadap mata uang lain.

Di sisi lain, dukungan dari faktor domestik menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih memiliki dasar penopang yang diperhitungkan investor. Kombinasi tekanan eksternal dan penyangga internal inilah yang membuat rupiah bergerak sensitif, dengan arah jangka pendek sangat ditentukan oleh sentimen global terhadap suku bunga dan arus modal internasional.

Berita Terkait