Rupiah Melemah, Tarif Truk Logistik Naik Hingga 10 Persen dan Tekan Biaya Barang

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah mulai memberi tekanan langsung ke sektor logistik nasional. Di Jawa Timur, tarif pengiriman truk angkutan barang dilaporkan naik hingga 10 persen karena biaya operasional ikut terdorong oleh komponen yang masih bergantung pada impor.

Dampaknya tidak berhenti di pelaku usaha angkutan. Kenaikan ongkos distribusi berisiko merembet ke harga barang di tingkat konsumen jika tekanan nilai tukar dan biaya pembiayaan terus berlangsung.

Komponen impor membuat biaya armada ikut terangkat

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur, Sundoro, menyebut biaya yang naik terutama terjadi pada suku cadang, oli, dan ban. Sejumlah kebutuhan itu masih banyak mengacu pada dolar Amerika Serikat karena pasokannya bergantung pada impor.

Menurut dia, pengusaha truk terpaksa menyesuaikan tarif agar operasi perusahaan tetap berjalan. Ia menyebut kenaikan ongkos angkutan di wilayahnya berada pada kisaran 5 persen sampai 10 persen akibat tekanan nilai tukar.

“Situasi ini tentu menyulitkan kami para pengusaha truk logistik, karena kami harus bernegosiasi ulang dengan pemilik barang karena ada kenaikan tarif ongkir hingga 10 persen,” kata Sundoro di kawasan Ngagel Jaya, Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Penetapan ongkos angkut tidak sesederhana jarak

Sundoro menjelaskan bahwa tarif pengiriman tidak bisa dihitung hanya dari jarak tempuh. Berat muatan, lokasi pemuatan, lokasi pembongkaran, dan karakteristik barang juga ikut menentukan besaran ongkos angkut.

Karena banyak variabel yang terlibat, penyesuaian tarif di setiap industri bisa berbeda. Ia menilai perhitungan biaya distribusi memang tidak sederhana karena harus memasukkan sejumlah komponen dalam satu perjalanan.

“Memang agak susah untuk menentukan angkanya karena masing-masing industri itu banyak sekali variabel yang harus dihitung seperti berat, jarak, kemudian dari tempat muatnya, dari tempat bongkarnya,” ujarnya.

BI rate menambah tekanan pembiayaan

Selain pelemahan rupiah, industri logistik juga menanggung beban tambahan dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate yang berada di level 5,75 persen. Kondisi itu menambah tekanan pada perusahaan yang membutuhkan modal besar untuk pengadaan armada dan operasional harian.

Bagi pelaku usaha truk, bunga pinjaman yang lebih tinggi berarti beban keuangan ikut meningkat. Ruang untuk menahan tarif pun menjadi semakin sempit ketika biaya komponen kendaraan juga bergerak naik.

Risiko berlanjut ke konsumen

Kenaikan ongkos logistik biasanya tidak berhenti di perusahaan angkutan. Biaya tersebut dapat diteruskan sepanjang rantai distribusi dan pada akhirnya memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Sundoro berharap kondisi rupiah segera membaik agar biaya operasional tidak terus menanjak. Ia juga membuka kemungkinan tarif angkutan kembali dinaikkan bila pelemahan rupiah berlangsung lebih lama.

“Kami berharapnya ini segera teratasi. Hitungan kami kenaikan tarif masih di angka 5 persen hingga 10 persen, tetapi jika ini terus berlarut besar kemungkinan tarif ongkir akan kembali dinaikkan,” tutupnya.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru