Rupiah Menguat Tipis, Dukungan S&P Global Redam Tekanan dari Pasar Dunia

Author: Redaksi Android62

Rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa sore setelah pasar merespons positif keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB. Sentimen itu muncul di tengah kekhawatiran investor terhadap tekanan global yang masih bergerak berlawanan arah dengan prospek domestik.

Nilai tukar rupiah naik 18 poin atau 0,10% menjadi 18.091 per dolar AS dari posisi sebelumnya 18.109 per dolar AS. Di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga bergerak naik ke 18.099 per dolar AS dari 18.131 per dolar AS.

Dukungan dari peringkat kredit Indonesia

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah tidak lepas dari respons positif pasar atas proyeksi S&P Global. Lembaga pemeringkat itu mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level layak investasi BBB dengan prospek stabil.

S&P menilai peringkat tersebut ditopang prospek pertumbuhan ekonomi yang masih kuat serta pengaturan kebijakan ekonomi makro yang dianggap bijak. Lembaga itu juga menilai beban utang eksternal dan utang pemerintah Indonesia masih lebih ringan dibandingkan negara lain dalam kelompok BBB.

Menurut Ibrahim, belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi turut menjaga daya tahan pertumbuhan ekonomi. S&P juga menilai penguatan kontrol pemerintah atas sumber daya mineral berpotensi menambah penerimaan dan penghasilan ekspor.

Indikator Posisi Terbaru Sebelumnya
Rupiah per dolar AS 18.091 18.109
JISDOR BI 18.099 18.131

Proyeksi pertumbuhan masih dijaga

Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1%. Proyeksi itu muncul setelah ekonomi Indonesia sempat tumbuh 5,6% pada kuartal I 2026, meski pasar keuangan mengalami gejolak pada semester I 2026.

Dalam periode tersebut, saham tercatat tertekan dengan kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar. Rupiah juga melemah sekitar 7% terhadap dolar AS pada waktu yang sama.

Ibrahim menyebut proyeksi S&P masih dipengaruhi ketidakpastian eksternal yang berlanjut dan tingginya suku bunga dalam negeri. Kondisi itu membuat ruang penguatan rupiah tetap dibayangi kehati-hatian pelaku pasar.

Tekanan dari luar negeri belum mereda

Di sisi global, investor juga memantau langkah Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Militer AS menyebut blokade itu mulai berlaku pada Selasa, 14 Juli 2026, dengan target lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran.

Kekhawatiran pasar bertambah karena potensi eskalasi militer dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Iran sebelumnya juga melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah.

Sentimen lain datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller. Ia mengatakan bahwa jika Indeks Harga Konsumen naik pekan ini, maka kenaikan suku bunga harus dipertimbangkan dalam waktu dekat.

Waller juga menegaskan inflasi inti yang tinggi akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga segera. Meski demikian, ia masih melihat peluang inflasi mencapai target 2% tanpa kenaikan suku bunga, sambil menilai pasar tenaga kerja lebih dekat ke target lapangan kerja maksimum The Fed.

Pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan kali ini menunjukkan pasar masih menimbang dukungan domestik dan tekanan global secara bersamaan. Kepercayaan pada prospek ekonomi Indonesia memberi bantalan, tetapi sentimen eksternal tetap menjaga kehati-hatian investor.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru