Rupiah Tertahan Di Titik Terendah Baru, Isyarat Kenaikan Suku Bunga The Fed Kian Membebani Pasar

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah belum berhenti setelah mata uang domestik itu sempat menyentuh rekor terendah baru di level 17.669 per dolar AS dalam perdagangan intraday pada Senin (18/5). Pada penutupan hari yang sama, rupiah berada di 17.656 dan mencatat penurunan sejak awal tahun sebesar 5,8%.

Tekanan itu datang bersamaan dengan perubahan sentimen pasar global yang makin condong ke dolar AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan, serta harga minyak yang tetap tinggi membuat aset emerging markets kembali berada dalam posisi rentan.

Dolar AS Menguat, Pasar Kian Waspada

Kekuatan dolar AS terlihat dari indeks dolar atau DXY yang naik 1,19% secara mingguan ke level 99,1 pada Senin sore. Penguatan ini memperberat tekanan ke rupiah dan menambah beban bagi mata uang di negara berkembang lainnya.

Pasar juga menyoroti harga minyak Brent yang naik sekitar 0,6% ke US$110 per barel pada Senin sore. Kenaikan itu terjadi setelah insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global akan bertahan lebih tinggi dari perkiraan.

Dari sisi Amerika Serikat, Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat inflasi IHK April 2026 sebesar 3,8% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dari konsensus 3,7% dan meningkat dari inflasi Maret 2026 yang sebesar 3,3% secara tahunan, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.

Ekspektasi The Fed Berubah Lebih Agresif

Setelah data inflasi tersebut dirilis, pasar mempercepat penilaian terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS. CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 bps ke kisaran 3,75%–4% hingga akhir 2026 naik menjadi sekitar 51%.

Sepekan sebelumnya, probabilitas itu baru berada di 21%. Perubahan cepat ini menunjukkan pasar kini jauh lebih agresif dalam memperhitungkan peluang pengetatan lanjutan dari The Fed.

Sentimen tersebut ikut menekan minat terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga AS tetap tinggi, rupiah dan instrumen emerging markets lain cenderung bergerak lebih liar.

Dampak Mulai Terasa di Dalam Negeri

Tekanan di pasar valas segera merembet ke pasar domestik. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 11 bps ke 6,81% pada Senin, sementara IHSG melemah 1,85% ke 6.599,2 dengan outflow asing sebesar Rp464,0 miliar.

Pergerakan komoditas belum banyak membantu memperbaiki suasana. Emas turun 0,29% ke 4.549, sedangkan coal menguat 2,51% ke 135,0 dan CPO naik 2,49% ke 4.530.

Kombinasi dolar AS yang lebih kuat, energi yang mahal, dan inflasi Amerika yang lebih tinggi membuat investor cenderung menunggu kepastian yang lebih jelas dari bank sentral AS. Dalam kondisi seperti ini, tekanan ke pasar domestik tetap besar.

Bank Indonesia Memantau Volatilitas

Di tengah pelemahan rupiah, Bank Indonesia menilai volatilitas menjadi perhatian utama. Perry Warjiyo menyebut BI menggunakan rata-rata pergerakan 20 hari sebagai acuan untuk membaca arah rupiah.

Dalam rapat bersama DPR pada Senin (18/5), Perry mengatakan BI optimistis rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun ini bisa kembali menguat ke 16.500. Ia juga menyebut rentang rata-rata sekitar 16.200–16.800 seperti yang diasumsikan dalam APBN 2026.

Perry menilai tekanan rupiah secara historis memang cenderung kuat pada kuartal kedua karena permintaan dolar AS biasanya meningkat, terutama dari musim pembagian dividen. Setelah periode itu, rupiah biasanya kembali menguat pada kuartal berikutnya.

Meski begitu, Perry menyebut pelemahan rupiah 5,8% sejak awal tahun masih tergolong terkendali. Di sisi lain, konsensus Bloomberg menunjukkan median estimasi BI Rate hingga akhir 2026 kini berada di level 5%, yang berarti pasar juga mulai memprice-in potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.

Source: snips.stockbit.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru