Rusia Menguatkan Ekonomi Pendudukan Donbas, Perusahaan China Dan Iran Masuk Lewat Celah Ini

Di wilayah pendudukan Rusia di Donbas, arus barang dan uang tidak berhenti di garis depan. Aktivitas ekonomi justru terus bergerak, dan China bersama Iran disebut menjadi dua negara yang paling diuntungkan dari jaringan ekonomi perang itu.

Keterlibatan mereka membuat wilayah Donetsk dan Luhansk semakin terhubung dengan kepentingan Moskow. Di sektor yang dulu menopang ekonomi lokal, mulai dari tambang, telekomunikasi, hingga perdagangan bahan baku, kini muncul ketergantungan baru yang berjalan di bawah kendali Rusia.

China masuk lewat proyek industri dan layanan penting

Salah satu contoh paling nyata terlihat pada sektor konstruksi. Pada November 2023, perwakilan dua perusahaan China menandatangani kesepakatan untuk memasok mesin pemecah batu bagi proyek pembangunan, dan kontrak itu ditandatangani di Moskow. Pengumuman kemudian disampaikan oleh Evgeny Solntsev, yang saat itu menjabat “perdana menteri” dari “People’s Republic of Donetsk”.

Dua perusahaan yang disebut adalah Zhongxin Heavy Industrial Machinery dan Amma Construction Machinery. Peralatan mereka dipasok ke Karansky quarry di wilayah Donetsk selatan, lalu batu pecahannya dipakai untuk proyek pembangunan di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Salah satu lokasi pembangunan yang ramai disebut berada di Mariupol, kota pelabuhan di Laut Azov. Di sana, puluhan bangunan dilaporkan berdiri di atas kuburan massal ribuan warga sipil yang tewas selama pengepungan pada awal 2022.

Jejak perusahaan China di ekonomi pendudukan

Eastern Human Rights Group menyebut sedikitnya 17 perusahaan China beroperasi di wilayah pendudukan. Lembaga kajian berbasis di Ukraina itu juga mengatakan hampir 6.000 stasiun relay buatan China sudah dipasang di sana.

Menurut kelompok itu, perusahaan China terlibat dalam pertambangan, konstruksi, penyediaan peralatan telekomunikasi, dan layanan keuangan. Mereka disebut bekerja secara diam-diam, sehingga pernyataan dari pejabat separatis atau pejabat yang ditunjuk Rusia sering menjadi satu-satunya petunjuk tentang keberadaan mereka.

Maksym Butchenko dari Eastern Human Rights Group mengatakan kehadiran perusahaan China menciptakan bentuk “penggantian lain, tetapi dalam ekonomi” ketika Rusia memperkuat kontrol politik di wilayah itu. Ia menilai industri setempat banyak yang mati suri, sementara aset yang masih bergerak kini mengarah ke China dan Rusia.

Tambang, pembayaran, dan ketergantungan baru

Butchenko menyoroti perubahan besar di sektor batu bara. Dari 94 tambang batu bara yang beroperasi di Donetsk dan Luhansk sebelum 2014, hanya lima yang masih terbuka.

Menurut dia, tambang yang tersisa kini “sepenuhnya berorientasi” pada kerja sama dengan China dan Rusia. EHRG bahkan menyebut ekonomi wilayah pendudukan kini “sepenuhnya tergantung yuan”.

Di lapangan, bisnis lokal memakai sistem pembayaran elektronik China melalui kanal Telegram untuk penukaran mata uang dan transfer. Yuan juga dijual di 79 bank di wilayah itu, menandakan arus transaksi yang semakin mengandalkan mata uang China.

Butchenko menyebut pola ini sebagai “shadow integration”. Ia menilai situasi tersebut berbahaya dari sudut pandang politik dan hukum internasional karena melanggar perjanjian internasional.

Harga murah dan risiko sanksi

Beijing menyebut perang Rusia-Ukraina sebagai “krisis” dan berulang kali mengatakan mendukung “integritas teritorial” Ukraina. Namun di lapangan, perusahaan-perusahaan China disebut bertindak sebagai pelaku yang siap mengambil risiko sanksi.

Butchenko mengatakan perusahaan China “hampir merebut seluruh pasar di wilayah pendudukan”. Volodymyr Fesenko, kepala Penta think tank, menambahkan bahwa China tidak melarang bisnis di wilayah pendudukan Rusia dan kadang menutup mata terhadap beberapa hal.

Fesenko menjelaskan bahwa bila sebuah perusahaan China punya kepentingan, perusahaan itu siap menghadapi risiko, termasuk ancaman sanksi dari negara-negara Barat dan Ukraina. Kyiv sudah menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan semacam itu, meminta Barat ikut melangkah, dan melarang mereka berbisnis di Ukraina.

Daftar perusahaan yang dikenai sanksi mencakup Alibaba, pemilik AliExpress, China National Petroleum Corporation, serta puluhan produsen komponen drone dan rudal. Meski begitu, menjatuhkan sanksi pada konglomerat besar China tidak selalu mudah karena mengganti layanan dan keahlian mereka dinilai terlalu mahal.

Huawei juga termasuk di antara perusahaan yang peralatannya dipasang di wilayah pendudukan, meski raksasa telekomunikasi itu masih beroperasi di Ukraina. Seorang pakar telekomunikasi yang terafiliasi pemerintah mengatakan harga mereka jauh lebih rendah daripada para pesaingnya.

Pakar itu juga menyebut para ahli Huawei pernah memperbaiki kode sepanjang malam dan masalah yang dihadapi selesai pada pagi hari. Seorang pemilik usaha di Donetsk mengatakan bisnis di wilayah pendudukan sering tidak punya pilihan selain membeli barang China karena perusahaan lain menolak agar produk mereka dijual di sana.

Iran ikut masuk lewat gandum dan batu bara

Selain China, Moskow juga dilaporkan mendorong wilayah pendudukan menjalin hubungan dengan Iran. Eastern Human Rights Group menyebut Tehran membeli gandum dan batu bara, lalu mengintegrasikan ekonomi Donbas yang diduduki ke dalam rantai logistiknya sendiri yang dibangun setelah puluhan tahun isolasi.

Menurut pejabat separatis Andrey Chertkov, perusahaan batu bara Rusia Donskiye Ugli yang mengoperasikan tambang yang “dinasionalisasi” di Donetsk dan Luhansk mengirim batu bara ke Iran. Perusahaan itu juga disebut punya kaitan dengan oligarki Ukraina buronan Viktor Medvedchuk.

Pavel Kovalev, wakil perdana menteri People’s Republic of Luhansk, mengatakan pada Agustus bahwa produsen pangan lokal siap mulai memasok kasein, protein susu, ke Iran. Butchenko menilai kemunculan perusahaan Iran di wilayah pendudukan menunjukkan mereka hadir dengan izin dan dorongan Rusia.

Ia mengatakan Kremlin bukan hanya memberi izin kepada perusahaan Iran untuk masuk ke pasar wilayah pendudukan, tetapi juga mendorong mereka. Bagi para peneliti, pola ini menunjukkan ekonomi di wilayah yang diduduki tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan dagang yang lebih luas di bawah kendali Rusia.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer