Saat Jurusan Favorit Tak Sesuai Harapan, Banyak Mahasiswa Baru Baru Menyesal

Author: Redaksi Android62

Banyak mahasiswa baru baru menyadari bahwa rasa bangga saat diterima di jurusan impian tidak selalu bertahan lama. Begitu kuliah dimulai, yang muncul justru keraguan, lelah, dan pertanyaan apakah pilihan itu benar-benar cocok.

Kondisi ini tidak selalu berarti jurusannya salah. Dalam banyak kasus, yang paling dulu runtuh adalah gambaran indah yang sudah terbentuk sejak masih SMA, sebelum mahasiswa benar-benar mengenal ritme kuliah yang sesungguhnya.

Ekspektasi yang terlalu sempurna sering jadi pemicu utama

Sejumlah jurusan sering dikenal hanya dari permukaan. Psikologi misalnya kerap dipahami sebatas kemampuan membaca pikiran orang, sementara komunikasi sering disederhanakan menjadi public speaking atau pekerjaan sebagai content creator.

Begitu perkuliahan berjalan, gambaran itu cepat bertabrakan dengan kenyataan. Mahasiswa harus menghadapi teori yang banyak, tugas yang menumpuk, praktikum, laporan, dan mata kuliah yang jauh dari bayangan awal.

Di titik ini, kekecewaan sering muncul bukan karena jurusannya buruk. Masalahnya lebih sering terletak pada harapan yang keburu dibuat terlalu sempurna.

Suka pada bidangnya tidak selalu berarti sanggup menjalaninya

Minat terhadap kedokteran, desain, menulis, atau teknologi belum tentu membuat seseorang siap dengan beban proses belajarnya. Jadwal yang padat dan tekanan akademik bisa menguras energi, bahkan ketika bidang itu awalnya sangat disukai.

Revisi berulang, deadline yang datang terus-menerus, dan kebiasaan belajar hingga larut malam juga ikut memperberat keadaan. Akibatnya, rasa suka bisa berubah menjadi lelah ketika seseorang ternyata hanya menyukai hasil akhirnya, bukan proses panjang untuk mencapainya.

Di momen seperti ini, banyak mahasiswa merasa menyesal pada jurusan yang dulu sangat diinginkan. Padahal, yang berubah sering kali bukan minatnya, melainkan bayangan tentang beratnya perjalanan yang harus ditempuh.

Tekanan dari luar membuat ragu semakin besar

Perasaan salah jurusan juga sering tumbuh saat mahasiswa mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang masih menikmati jurusannya, tetapi mulai goyah ketika melihat teman lain tampak lebih santai atau terlihat punya prospek kerja yang lebih jelas.

Media sosial memperkuat tekanan itu. Melihat teman magang di perusahaan keren, teman lain sudah freelance dengan penghasilan besar, atau orang lain tampak sangat menikmati kuliah dapat memicu rasa tertinggal.

Dari situ, muncul pikiran bahwa jurusan sendiri mungkin keliru dipilih. Padahal, setiap jurusan punya tantangan masing-masing, hanya bentuk tekanannya yang berbeda.

Peralihan dari SMA ke kampus sering jadi fase paling berat

Kuliah juga menuntut cara belajar yang berbeda dari sekolah. Jika di SMA banyak siswa terbiasa dengan sistem yang jelas dan terarah, di kampus mahasiswa harus lebih mandiri dan aktif mencari materi sendiri.

Perubahan ini sering mengejutkan karena adaptasinya tidak selalu mulus. Lingkungan yang terasa kurang hangat, dosen yang dianggap galak, tugas kelompok yang melelahkan, persaingan akademik, dan rasa kesepian karena sulit menemukan teman yang cocok dapat menumpuk menjadi beban tersendiri.

Dalam situasi seperti itu, jurusan yang sebenarnya sesuai minat pun bisa terasa tidak nyaman. Masalahnya bukan hanya isi perkuliahannya, tetapi juga cara mahasiswa menyesuaikan diri dengan dunia kampus yang baru.

Citra bergengsi kadang menutup isi yang sebenarnya

Sebagian jurusan juga dipilih karena dianggap keren oleh masyarakat. Label bergengsi, pintar, atau menjanjikan masa depan cerah sering membuat siswa lebih terpikat pada citranya daripada isi perkuliahannya.

Pilihan seperti itu memang bisa memberi validasi dari luar pada awalnya. Namun ketika kebanggaan itu memudar, pertanyaan yang lebih jujur mulai muncul: jurusan tersebut memang disukai, atau hanya terlihat bagus di mata orang lain?

Pertanyaan semacam ini sering datang setelah mahasiswa terlanjur masuk dan menjalani rutinitas kuliah. Pada fase itulah rasa menyesal kerap muncul, bukan semata karena salah pilih, melainkan karena jurusan impian ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru