Saat Keanekaragaman Hayati Menyusut, Risiko Penyakit, Pangan, dan Iklim Ikut Menguat

Keanekaragaman hayati sering terlihat seperti isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, keberadaannya ikut menentukan apakah air tetap bersih, pangan tetap tersedia, dan tubuh manusia masih punya sumber obat baru.

Fungsinya juga tidak berhenti di sana. Di balik hutan, laut, lahan basah, dan mikroorganisme, ada sistem yang membantu menjaga kestabilan ekosistem sekaligus menopang kesehatan manusia.

Penopang obat dan penemuan medis

Banyak obat modern lahir dari alam. Antibiotik, obat antikanker, aspirin, dan pengobatan malaria adalah contoh yang menunjukkan bahwa tumbuhan, hewan, serta mikroorganisme menyimpan senyawa bernilai tinggi bagi dunia medis.

Aspirin dikembangkan dari ekstrak pohon willow, sementara pengobatan malaria ditemukan melalui tanaman kina. Saat ini, seperempat obat modern berasal dari tanaman tropis, dan 70 persen obat kanker merupakan produk alami atau terinspirasi biologi.

Potensi itu belum habis digali. Di Nova Scotia, peneliti menemukan jamur tanah yang mampu melumpuhkan bakteri resistan antibiotik, sebuah temuan yang penting bagi kedokteran dan pertanian.

Benteng alami menghadapi iklim dan bencana

Keanekaragaman hayati juga membantu bumi bertahan menghadapi tekanan iklim. Menurut PBB, ekosistem darat dan laut menyerap hingga 60 persen emisi karbon dari aktivitas manusia.

Lahan basah, mangrove, dan padang lamun punya peran ganda. Ekosistem pesisir itu menahan hantaman badai dan banjir, sekaligus menyimpan karbon secara alami.

Peran ini membuat kerusakan alam punya dampak yang jauh lebih luas dari sekadar hilangnya pemandangan hijau. Saat ekosistem melemah, kemampuan alam untuk melindungi manusia dari krisis iklim ikut berkurang.

Keseimbangan yang menjaga kesehatan manusia

Keragaman spesies turut memengaruhi risiko penyakit. Dalam ekosistem yang sehat, berbagai spesies membantu mengontrol populasi hewan inang patogen agar tetap seimbang.

Ketika keanekaragaman menurun, populasi tikus atau nyamuk dapat melonjak tanpa kendali. Kondisi itu membuka peluang lebih besar bagi penyebaran penyakit zoonosis seperti malaria, demam berdarah, dan bahkan pandemi baru.

PBB menyebut 75 persen penyakit menular yang baru muncul bersifat zoonosis. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan manusia sangat terkait dengan kesehatan ekosistem tempat manusia hidup.

Fondasi ketahanan pangan

Keanekaragaman hayati juga menjadi penyangga sistem pangan. Beragam spesies tanaman dan hewan menyediakan sumber makanan yang luas, sekaligus membuat pertanian lebih tahan terhadap perubahan iklim dan penyakit tanaman.

Di dalam satu spesies tanaman pun, keragaman genetik sangat penting. Keragaman ini memberi peluang lahirnya varietas yang lebih tahan kekeringan, hama, dan kondisi ekstrem lainnya.

Tanpa keragaman tersebut, produksi pangan menjadi lebih rapuh. Guncangan cuaca atau serangan penyakit bisa lebih mudah mengganggu pasokan makanan.

Lebih dari sekadar hitungan spesies

Keanekaragaman hayati tidak hanya berbicara tentang banyaknya spesies yang hidup di Bumi. Dr. Thomas Lovejoy menekankan bahwa cakupannya juga meliputi keanekaragaman genetik, habitat, bioma, dan interaksi antarspecies yang sering luput terlihat.

Lapisan-lapisan itu membuat alam tetap bekerja. Dari penyerbukan hingga pengendalian hama, setiap spesies punya fungsi yang saling terkait dalam menjaga ekosistem tetap seimbang.

Jika satu bagian hilang, jaringan itu dapat terganggu. Dampaknya bisa muncul dalam bentuk kualitas air yang memburuk, hasil pertanian menurun, hingga layanan alam seperti penyaringan air dan regulasi iklim yang ikut melemah.

Karena itu, keanekaragaman hayati bukan hanya urusan pelestarian alam. Ia adalah pilar yang menjaga sistem penyangga kehidupan tetap berjalan bagi manusia dan planet ini.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait