Saham Teknologi Tertekan, Bursa Asia dan Eropa Kompak Melemah di Tengah Guncangan Global

Tekanan terbesar di pasar keuangan global datang dari aksi jual saham teknologi di Wall Street yang merambat ke Asia dan Eropa. Di saat yang sama, ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kehati-hatian investor, sementara harga minyak ikut menguat.

Kombinasi tiga sentimen itu membuat pelaku pasar bergerak lebih selektif terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut terlihat jelas pada pembukaan bursa-bursa utama yang cenderung melemah, meski tidak seluruh indeks bergerak seragam.

Pelemahan paling tajam muncul di Korea Selatan

Pasar Asia mencatat tekanan paling dalam di Korea Selatan ketika indeks Kospi anjlok 4,5% ke 7.730,82. Sehari sebelumnya, indeks itu sempat melonjak tajam sehingga aksi ambil untung ikut membebani pergerakan berikutnya.

Tekanan di Korea Selatan juga terasa pada saham teknologi unggulan. Samsung Electronics turun 6,1%, sedangkan SK Hynix merosot 7,5%, mencerminkan kekhawatiran yang masih membayangi sektor chip.

Jepang, Hong Kong, dan China ikut tertekan

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,9% menjadi 64.179,27. Pelemahan itu terjadi setelah data menunjukkan indeks harga produsen Jepang naik 6,3% pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun.

Hong Kong juga melemah, dengan Hang Seng turun 0,6% ke 24.407,96. Di daratan China, Shanghai Composite terkoreksi 0,4% menjadi 3.993,23, menandakan sentimen negatif masih terasa di pasar kawasan tersebut.

Eropa membuka perdagangan dengan arah yang beragam

Di bursa Eropa, FTSE 100 Inggris turun 0,1% ke 10.223,39 dan DAX Jerman melemah 0,3% menjadi 24.368,28. Sebaliknya, CAC 40 Prancis naik tipis kurang dari 0,1% ke 8.210,03, sehingga pergerakan awal kawasan itu tidak sepenuhnya seragam.

Meskipun ada perbedaan arah pada beberapa indeks, dominasi pelemahan tetap terasa di pasar Eropa. Investor masih menimbang tekanan eksternal dari Wall Street dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Pasar lain bergerak hati-hati mengikuti sentimen global

Di kawasan Asia Pasifik lainnya, S&P/ASX 200 Australia justru menguat 0,6%. Bursa Taiwan turun 3,3%, sedangkan Sensex India naik 0,8%, menunjukkan bahwa pasar masih bergerak campuran di tengah tekanan global.

Menurut laporan AP, kekhawatiran investor meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Langkah itu dilakukan setelah sebuah helikopter militer AS jatuh di dekat Selat Hormuz dan Presiden Donald Trump menyebut insiden tersebut disebabkan oleh tindakan Iran.

Situasi itu ikut mendorong harga minyak menguat, menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar. Dengan tekanan saham teknologi dan ketegangan AS-Iran yang belum mereda, volatilitas di bursa Asia dan Eropa diperkirakan tetap tinggi dalam perdagangan berikutnya.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait