Pemadaman listrik massal di sebagian besar wilayah Sumatra menjadi alarm keras bagi ketahanan sistem kelistrikan nasional. Gangguan itu melumpuhkan aktivitas di sekitar 10 provinsi dan berdampak pada hampir 13 juta rumah tangga.
Skala gangguan tersebut menunjukkan bahwa persoalan listrik bukan lagi sekadar urusan teknis lokal. Ketika satu kawasan strategis terganggu, efeknya dapat merambat ke kegiatan ekonomi, distribusi barang, dan stabilitas pasokan di wilayah yang lebih luas.
Tekanan ke Ekonomi Nasional
Sumatra memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia karena menyumbang 23% terhadap Produk Domestik Bruto. Karena itu, pemadaman di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok komoditas utama, termasuk sawit dan batu bara.
Dampak seperti ini membuat blackout Sumatra dipandang sebagai peringatan yang melampaui masalah jaringan listrik semata. Ketika pasokan energi terganggu, risiko gangguan ekonomi ikut meningkat, terutama di daerah yang menjadi tulang punggung produksi nasional.
Kerentanan yang Disorot Analis
Direktur Institute for Climate Policy & Global Politics, Eko Sulistyo, menilai insiden ini menunjukkan persoalan fundamental dalam infrastruktur ketenagalistrikan Indonesia. Pandangan itu ia sampaikan dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk “Membangun Sistem dan Pembaruan Infrastruktur Energi Listrik Indonesia Menyongsong 2045” yang digelar secara daring, Rabu (10/6).
Menurut Eko, dampak gangguan regional tidak berhenti di tingkat lokal. Efeknya bisa merembet ke rantai pasok nasional bahkan global, sehingga mitigasi perlu disiapkan lebih serius agar kerugian tidak meluas.
Kerugian Belum Terukur
Salah satu masalah yang ikut disorot adalah belum adanya perhitungan komprehensif atas nilai kerugian ekonomi akibat padamnya listrik. Eko menilai ukuran seperti value of lost load penting untuk menghitung beban nyata yang ditanggung masyarakat dan pelaku usaha.
Tanpa ukuran yang jelas, pemerintah dan operator energi akan kesulitan menilai skala risiko secara utuh. Kondisi itu juga dapat membuat kebijakan pemulihan dan penguatan sistem kurang tepat sasaran.
Risiko Finansial dan Ketergantungan Dolar
Selain persoalan fisik jaringan, Eko juga menyoroti tekanan finansial yang membayangi sektor energi. Ia menyebut ketergantungan pada komponen impor dan skema pendanaan berbasis dolar Amerika Serikat membuat sektor ini rentan ketika rupiah melemah.
Fenomena itu ia istilahkan sebagai dollar energy threat, yaitu kondisi saat tekanan eksternal dan internal bertemu lalu mendorong kebutuhan dolar meningkat. Dalam situasi seperti ini, tekanan kurs bisa menguji ketahanan energi nasional dan memperbesar risiko krisis jika tidak diantisipasi.
Eko menilai risiko semacam itu tidak boleh dianggap sepele karena pernah memicu ketidakstabilan di sejumlah negara lain. Stabilitas nilai tukar, menurut dia, perlu diperlakukan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi, bukan hanya isu ekonomi makro.
Mitigasi dan Stress Test yang Lebih Terbuka
Eko mengapresiasi upaya Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) dalam memperkuat jaringan serta menambah kapasitas pembangkit. Namun, ia juga mendorong pemerintah menyusun strategi mitigasi risiko nilai tukar dan melakukan stress test yang lebih transparan untuk menghadapi ancaman sistem kelistrikan di masa depan.
Dorongan itu menjadi relevan karena blackout Sumatra memperlihatkan bahwa gangguan di satu kawasan dapat berdampak berlapis ke banyak sektor. Menjelang 2045, penguatan infrastruktur listrik, kesiapan cadangan sistem, dan pengendalian risiko finansial dinilai sama pentingnya untuk menjaga kedaulatan energi nasional.
Source: mediaindonesia.com






