Tarekat diposisikan sebagai jalur pembinaan batin yang serius, bukan sekadar tradisi yang dijalankan tanpa arah. Dalam pandangan Mudir Ali JATMAN, KH Ali Masykur Musa, ajaran ini justru menjadi ruang pendidikan ruhani yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
Penegasan itu mengemuka di tengah kebutuhan banyak orang akan ketenangan batin dan pegangan spiritual yang lebih kokoh. Ali Masykur Musa menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian Halal Bihalal JATMAN se-Jawa Barat yang dirangkai dengan pelantikan Idarah Ghusniyah JATMAN se-Kabupaten Cirebon di Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.
Sanad kemursyidan jadi penopang utama
Bagi JATMAN, menjaga kesinambungan sanad kemursyidan sampai kepada Rasulullah saw. menjadi tanggung jawab penting. Ali Masykur Musa menilai rantai keilmuan dan kemursyidan itu tidak boleh terputus karena menjadi penopang utama dalam pencarian spiritual umat.
Ia melihat masyarakat membutuhkan tuntunan yang mampu mengantar pada ketenangan dan kedekatan kepada Allah Swt. Dari titik itu, tarekat tidak hanya hadir sebagai warisan amalan, tetapi juga sebagai jalan yang menjaga arah spiritual tetap jelas.
Pembersihan hati menjadi inti perjalanan
Ali Masykur Musa juga menekankan tasfiyatul qalb atau pembersihan hati sebagai inti dalam tarekat. Menurut dia, tarekat membentuk ruhani manusia secara langsung dan mengantar seseorang pada ketenangan batin serta hubungan yang lebih dekat kepada Allah Swt.
Hati yang bersih dipandang akan memantulkan cahaya Ilahi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Karena itu, tarekat tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi masuk ke wilayah pembentukan batin yang lebih dalam.
Dampaknya juga terasa di ruang sosial
Pandangan tersebut tidak hanya menempatkan tarekat sebagai urusan pribadi. Ali Masykur Musa juga menyoroti pentingnya nilai-nilai tarekat hadir dalam kehidupan sosial, termasuk di lingkungan kepemimpinan.
Menurutnya, pemimpin yang memiliki kejernihan hati akan lebih mampu menghadirkan ketenangan bagi masyarakat. Dari sana, tarekat dipahami sebagai bekal etika sosial yang ikut memberi pengaruh pada keberkahan hidup bersama.
Relevan di tengah perubahan yang cepat
Dalam tradisi JATMAN, tarekat dipandang tidak berhenti pada pembinaan ibadah semata. Jalur ini juga diarahkan untuk membentuk karakter, memperhalus budi, dan menjaga hubungan sosial agar tetap teduh di tengah perubahan sosial yang cepat.
Pesan tentang sanad kemursyidan dan pendidikan ruhani menjadi penting karena masyarakat memang mencari tuntunan yang menenangkan. Di hadapan jamaah JATMAN se-Jawa Barat, Ali Masykur Musa kembali menegaskan bahwa kekuatan tarekat terletak pada keterhubungan dengan Rasulullah saw. dan pada kemampuannya membimbing hati agar tetap bersih.
Source: nu.or.id