Sarawak Chamber di kawasan Gunung Mulu menunjukkan betapa sulitnya memetakan dunia bawah tanah Borneo. Ruang raksasa ini begitu luas sehingga penjelajah dapat melewatkan lorong atau detail penting saat ekspedisi awal.
Ruang bawah tanah tersebut diakui sebagai salah satu yang terbesar di dunia, dengan panjang sekitar 600 meter dan lebar lebih dari 400 meter. Tingginya hampir 150 meter, menciptakan skala yang sulit dibayangkan dari permukaan hutan hujan.
Skala Sarawak Chamber
Ukuran Sarawak Chamber membuat bentang alam di dalamnya tidak mudah diamati secara menyeluruh dalam satu perjalanan. Volume ruangannya bahkan disebut lebih dari dua kali lipat Stadion Wembley di Inggris.
| Unsur | Data | Gambaran Skala |
|---|---|---|
| Panjang | Sekitar 600 meter | Membentang jauh di bawah kawasan kapur |
| Lebar | Lebih dari 400 meter | Menyulitkan pengamatan menyeluruh |
| Tinggi | Hampir 150 meter | Membentuk ruang bawah tanah yang kolosal |
| Volume | Lebih dari dua kali Stadion Wembley | Menegaskan besarnya ruang gua |
Penjelajah gua Philip Rowsell menilai ukuran tersebut dapat membuat tim yang datang sebelumnya terlalu terpukau. “Saat pertama kali menjelajah, orang-orang sebelumnya bisa saja melewatkan banyak hal, terutama karena guanya sangat besar hingga membuat mereka terpukau,” katanya.
Potensi lorong yang belum tercatat tidak hanya berada di sekitar Sarawak Chamber. Sistem Gua Borneo di Gunung Mulu juga mencakup sungai bawah tanah dan jalur rumit yang terus dipetakan.
Ekspedisi Masih Membuka Jalur Baru
Penjelajahan ilmiah di wilayah ini telah berlangsung sejak 1961, tetapi pemetaan belum dianggap selesai. Medan hutan hujan yang lebat serta jaringan bawah tanah yang luas membuat setiap ekspedisi berpeluang membawa temuan baru.
Pemimpin ekspedisi gua asal Inggris, Andy Eavis, menyebut kawasan ini masih menyimpan area yang belum banyak dieksplorasi manusia. Menurut laporan IFL Science yang dikutip inet.detik.com, ia menilai Gunung Mulu sebagai lokasi yang sangat luar biasa untuk penjelajahan.
“Ini adalah tempat yang sangat luar biasa. Di mana lagi di Bumi Anda bisa menemukan wilayah yang belum banyak dieksplorasi sebanyak ini?” ujar Eavis. Ia juga menyatakan satu ekspedisi berpotensi menemukan sekitar 30 mil lorong gua baru.
Temuan lorong baru itu penting karena memperluas pemahaman terhadap bentuk sistem kapur di bawah hutan Borneo. Pemetaan tidak hanya berfokus pada ukuran ruang, tetapi juga hubungan antara jalur, aliran air, dan kondisi ekologis di dalam gua.
Terbentuk oleh Air Selama Jutaan Tahun
Ruang-ruang besar di Gunung Mulu terbentuk ketika air melarutkan batu kapur selama jutaan tahun. Proses geologi itu menghasilkan lorong luas yang pada sejumlah bagian dialiri sungai bawah tanah.
Stalaktit dan stalagmit berukuran kolosal tumbuh di sejumlah area sistem gua tersebut. Bentukan itu memperlihatkan proses alam yang berlangsung sangat lama di dalam pegunungan kapur Borneo.
Gua-gua ini juga menjadi habitat jutaan kelelawar dan burung walet. Saat senja, satwa tersebut keluar dalam formasi yang menyerupai pusaran asap di atas kawasan hutan.
Keberadaan satwa memperlihatkan bahwa gua bukan ruang geologi yang terpisah dari lingkungan sekitarnya. Ekosistem bawah tanah ini terhubung dengan hutan hujan di atasnya melalui aliran air, udara, dan aktivitas satwa.
Penelitian selama puluhan tahun turut menemukan fosil berbagai satwa purba, termasuk spesies trenggiling raksasa yang telah punah. Fosil itu memberi petunjuk mengenai perubahan lingkungan di Kalimantan selama puluhan ribu tahun terakhir.
Dengan lorong yang masih mungkin belum dimasuki manusia, Gunung Mulu tetap menjadi wilayah penting bagi speleologi dan sejarah alam tropis. Di balik jalur yang telah dipetakan, masih ada peluang menemukan ruang, sungai, dan sambungan gua baru.
