Warga Indonesia dapat menyaksikan Saturnus dan Bulan yang tampak sangat berdekatan di langit pada dini hari Rabu (8/7/2026). Fenomena ini bisa diamati dari wilayah RI mulai sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan terbit, selama langit cerah dan tidak tertutup awan.
Peristiwa tersebut bukan berarti kedua benda langit itu benar-benar saling mendekat secara fisik. Dari sudut pandang pengamat di Bumi, Saturnus dan Bulan hanya terlihat sejajar dalam fenomena yang disebut konjungsi.
Jaraknya jauh, hanya tampak rapat dari Bumi
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah, menjelaskan bahwa Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan jarak yang sangat jauh. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer.
Izatul menegaskan, konjungsi merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah. Peristiwa ini tidak berkaitan dengan perubahan cuaca, gempa bumi, maupun dampak langsung terhadap kehidupan manusia.
Waktu terbaik untuk mengamati
Saturnus diperkirakan menyusul Bulan sekitar pukul 23.45 WIB dan keduanya akan terlihat berdekatan hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah saat keduanya sudah cukup tinggi di langit, yakni sekitar pukul 01.00 hingga 05.00 WIB.
Fenomena ini bisa dinikmati tanpa alat bantu. Bulan akan tampak sangat terang, sedangkan Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan.
Alat bantu membuat pengamatan lebih jelas
Meski dapat dilihat dengan mata telanjang, binokular atau teleskop akan membuat pengamatan lebih menarik. Dengan alat bantu itu, cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.
Karena itu, fenomena ini menjadi salah satu tontonan langit yang mudah diakses tanpa peralatan rumit. Selama cuaca mendukung, warga bisa melihat sendiri bagaimana dua objek langit yang sangat jauh dari Bumi tampak seolah saling mendekat di atas kepala.
Mengapa fenomena ini terjadi
Konjungsi Saturnus dan Bulan muncul sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika.
Bulan juga terus mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari. Karena gerak itu, Bulan secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit jika dilihat dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Fenomena seperti ini memperlihatkan bagaimana perspektif pengamat dapat membuat benda langit yang letaknya sangat jauh terlihat berdampingan. Selama langit cerah, momen tersebut dapat menjadi kesempatan menarik untuk menyimak gerak alam semesta tanpa perlu teleskop.
Source: www.cnbcindonesia.com






