Saudi Menyerang Milisi Pro-Iran di Irak, Jejak Operasi Lintas Batas Terungkap

Author: Redaksi Android62

Serangan lintas batas yang menyinggung Arab Saudi, Kuwait, dan Irak kini memperlihatkan betapa rapuhnya keamanan kawasan Teluk saat perang bayangan terus bergerak di balik layar. Di tengah meningkatnya ketegangan, sumber-sumber keamanan menyebut jet tempur Saudi pernah membidik kelompok bersenjata berafiliasi Iran di dekat perbatasan utara kerajaan dengan Irak.

Target yang diserang disebut menjadi titik asal peluncuran drone dan rudal ke Arab Saudi serta negara Teluk lain. Seorang pejabat Barat mengatakan sebagian serangan itu terjadi sekitar waktu gencatan senjata Iran-AS pada 7 April.

Di sisi lain, serangan juga datang dari arah yang tidak kalah sensitif. Sumber-sumber Irak menyebut roket diluncurkan dari wilayah Kuwait menuju Irak setidaknya dalam dua kesempatan, dan salah satunya menghantam posisi milisi di Irak selatan pada April.

Serangan di selatan Irak itu menewaskan beberapa pejuang dan merusak fasilitas milik Kataib Hezbollah. Fasilitas tersebut digunakan untuk komunikasi dan operasi drone, menurut sumber yang mengetahui masalah itu.

Peristiwa-peristiwa ini menguatkan kesan bahwa konflik tidak lagi berhenti pada batas negara. Banyak detail operasi tersebut lama disembunyikan dari publik, padahal rangkaian aksinya ikut memperburuk ketegangan regional dan memberi tekanan tambahan pada jalur energi global di Selat Hormuz.

Saling curiga yang makin terbuka

Kuwait dan Arab Saudi disebut mulai kehilangan kesabaran terhadap kelompok milisi yang memiliki puluhan ribu kombatan serta persenjataan rudal dan drone. Tekanan dari “front kedua” di Irak membuat kedua negara mengambil langkah diplomatik dan militer yang lebih keras.

Kuwait memanggil perwakilan Irak di negaranya tiga kali selama perang untuk memprotes serangan lintas batas. Negara itu juga memprotes penyerbuan ke konsulatnya di Basra pada 7 April.

Arab Saudi ikut menempuh jalur serupa dengan memanggil duta besar Irak pada 12 April untuk menyampaikan protes. Sebelumnya, pada Maret, Saudi dan Kuwait sudah memperingatkan بغداد melalui jalur diplomatik agar mengekang serangan roket dan drone oleh kelompok pro-Iran terhadap negara-negara Teluk.

Jejak lama yang kembali terasa

Ketegangan antara negara-negara Teluk dan Irak bukan hal baru. Hubungan itu memburuk berat sejak invasi Kuwait oleh Presiden Irak Saddam Hussein pada 1990 dan peluncuran rudal Scud ke Arab Saudi.

Kecurigaan tersebut tetap bertahan puluhan tahun, lalu kembali menguat setelah invasi Irak yang dipimpin AS pada 2003. Saat itu, kekhawatiran Teluk bertambah karena faksi politik Syiah dan kelompok bersenjata yang dekat dengan Teheran menjadi semakin kuat.

Sejak itu, Irak kerap dipandang sebagai simpul penting dalam jaringan proksi regional Iran. Dalam situasi perang yang lebih luas, pandangan itu membuat setiap serangan lintas batas dari wilayah Irak selalu dipantau dengan sangat ketat.

Operasi yang belum sepenuhnya terbuka

Sumber-sumber yang mengetahui operasi ini mencakup tiga pejabat keamanan dan militer Irak, seorang pejabat Barat, serta dua orang lain yang mendapat penjelasan soal masalah tersebut, termasuk satu orang di Amerika Serikat. Reuters belum bisa memastikan secara independen semua rincian yang berkaitan dengan serangan itu.

Pemerintah Saudi menyatakan ingin deeskalasi, pengendalian diri, dan pengurangan ketegangan demi stabilitas, keamanan, dan kemakmuran kawasan. Namun pernyataan itu tidak secara langsung menanggapi serangan di Irak.

Di tengah situasi tersebut, saluran Telegram yang terkait milisi berulang kali mengklaim adanya serangan ke target di Arab Saudi dan Kuwait. Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian pernyataan-pernyataan itu secara independen.

Sumber yang sama menyebut ratusan drone yang menargetkan Teluk berasal dari Irak. Mereka juga mengatakan kelompok-kelompok yang didukung Iran masih menerbangkan drone pengintai di sepanjang perbatasan Irak dengan Kuwait dan Arab Saudi.

Seorang sumber yang mendapat penjelasan soal situasi itu mengatakan kelompok tersebut sedang mengumpulkan informasi tentang kerusakan dan aset yang masih berfungsi. Sumber itu menambahkan bahwa mereka juga tengah bersiap untuk serangan berikutnya.

Berita Terbaru