Tanggul 23 Kilometer Membelah Gaza, Garis Sementara Israel Memicu Kekhawatiran Baru

Author: Redaksi Android62

Militer Israel membangun tanggul tanah sepanjang lebih dari 23 kilometer di Jalur Gaza, membelah wilayah pesisir yang panjangnya sekitar 40 kilometer. Penghalang itu melintasi kawasan permukiman Palestina yang telah hancur akibat operasi militer.

Bentangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa garis kuning, yang semula menjadi batas sementara penarikan pasukan Israel, dapat berkembang menjadi pemisah permanen di dalam Gaza. Banyak warga Palestina kini terkonsentrasi di sebelah barat garis itu, termasuk di kamp-kamp tenda yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Pembangunan Berlangsung Cepat

Citra satelit Planet Labs PBC menunjukkan pengerjaan tanggul berlangsung cepat di sejumlah lokasi. Di Gaza selatan, salah satu ruas bertambah dari sekitar 500 meter menjadi 2,4 kilometer hanya dalam rentang 1 Juli hingga 15 Juli.

Ruas lain di dekat Khan Younis juga bertambah lebih dari 1 kilometer antara 21 Juni dan 7 Juli. Sementara itu, jalur yang membentang dari Khan Younis hingga mendekati Kota Gaza sudah hampir tersambung tanpa putus sepanjang sekitar 17 kilometer sejak pembangunan dimulai pada Februari.

Lokasi Perkembangan Tanggul Periode
Gaza selatan Dari sekitar 500 meter menjadi 2,4 kilometer 1 Juli–15 Juli
Dekat Khan Younis Bertambah lebih dari 1 kilometer 21 Juni–7 Juli
Khan Younis hingga dekat Kota Gaza Hampir tersambung sepanjang sekitar 17 kilometer Dimulai Februari

Di selatan, tanggul itu memisahkan reruntuhan Rafah yang dikuasai Israel dari Muwasi, lokasi sejumlah kamp tenda Palestina terbesar. Jika arah pembangunan dipertahankan, ruas tersebut berpotensi tersambung dengan bentangan penghalang yang lebih panjang.

Beberapa bagian tanggul juga terlihat di sekitar Bani Suheila, dekat pangkalan militer Israel yang dibangun di atas reruntuhan kawasan tersebut. Ruas-ruas yang belum terhubung tampak pula di luar Beit Lahia, kota di utara Gaza yang sebagian besar telah rata dengan tanah.

Zona Keamanan di Sekitar Garis Kuning

Militer Israel mengonfirmasi kepada Associated Press bahwa penghalang fisik itu dibangun di sekitar garis kuning. Garis tersebut ditetapkan sebagai batas penarikan pasukan Israel dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas pada Oktober yang didukung Amerika Serikat.

Israel menyatakan tanggul dan zona keamanan di sekitarnya bertujuan mencegah penyusupan serta melindungi pasukan dan komunitas Israel di dekat Gaza. Area itu disebut dilengkapi perangkat intelijen dan teknologi, meski jalur lengkap tanggul tidak dijelaskan oleh militer.

Penandaan garis kuning di lapangan dilaporkan belum konsisten dan tidak dijabarkan rinci dalam kesepakatan maupun pernyataan pejabat Israel dan Amerika Serikat. Militer Israel mengatakan sedang memperjelas penandanya untuk mengurangi gesekan dan mencegah jatuhnya korban dari kalangan yang tidak terlibat.

Namun, citra satelit memperlihatkan beberapa bagian tanggul tampak melewati garis yang disebut sebagai batas penarikan pasukan. Belum diketahui berapa tinggi penghalang tanah tersebut maupun bentuk akhir zona keamanan yang direncanakan.

Risiko bagi Warga Sipil

Sejumlah warga Palestina tewas setelah mendekati atau melintasi garis kuning, menurut laporan yang dikutip Liputan6.com. Militer Israel menyatakan tembakan diarahkan kepada orang-orang yang dianggap anggota kelompok bersenjata dan mengancam pasukannya.

Korban juga mencakup anak-anak dan warga sipil yang diyakini tidak mengetahui lokasi pasti garis itu. Sejumlah tentara Israel mengaku tidak selalu mengetahui identitas orang yang ditembak dan mengatakan mendapat perintah menembak siapa pun yang melintasi batas.

Di sisi timur garis kuning, banyak bangunan diratakan dengan buldoser dan bahan peledak. Rafah, yang sebelumnya dihuni lebih dari 250.000 orang, termasuk kota yang terdampak berat bersama lahan pertanian dan kawasan permukiman lain.

Israel menyatakan penghancuran itu menyasar infrastruktur yang digunakan Hamas. Pada saat yang sama, pasukan Israel membuka jalan-jalan baru dan membangun pangkalan militer di atas reruntuhan kota-kota Palestina.

Gencatan Senjata Masih Buntu

Kesepakatan gencatan senjata mengatur penarikan pasukan Israel lebih jauh dari Gaza pada tahap berikutnya, sebelum akhirnya digantikan pasukan keamanan internasional di tepi wilayah itu. Pelaksanaannya tertahan berbulan-bulan di tengah perbedaan pandangan antara Israel dan Hamas.

Seorang mantan diplomat PBB yang mengoordinasikan gencatan senjata menyebut kebuntuan berkaitan dengan Hamas yang belum melucuti senjata. Hamas, sebaliknya, menuduh Israel melanggar kesepakatan yang telah dibuat.

Sejak gencatan senjata berlaku, lebih dari 1.100 warga Palestina tewas, terutama akibat serangan udara dan pesawat nirawak Israel di berbagai wilayah Gaza. Dalam periode yang sama, serangan kelompok bersenjata menewaskan lima tentara Israel.

Perang ini bermula setelah serangan kelompok bersenjata pimpinan Hamas ke sejumlah komunitas Israel pada 7 Oktober 2023 yang diklaim menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera. Menurut otoritas Gaza, operasi militer Israel setelah itu telah menewaskan lebih dari 73.000 orang.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru