Sean Gelael kembali memperkuat Team WRT untuk FIA World Endurance Championship atau FIA WEC pada musim 2026. Pebalap Indonesia itu akan kembali satu mobil dengan Augusto Farfus dan Darren Leung, kombinasi yang membuat tim asal Belgia tersebut bertumpu pada susunan yang sudah saling mengenal di lintasan ketahanan.
Komposisi ini menjadi sorotan karena bukan pertama kalinya ketiganya bekerja dalam satu paket. Sean, Farfus, dan Leung sebelumnya pernah tampil bersama dan langsung memberi hasil yang kuat, termasuk kemenangan di Imola saat mereka menjalani musim debut di kelas LMGT3.
Modal lama yang kembali dipakai
Bagi Team WRT, fakta bahwa trio ini sudah punya pengalaman bersama menjadi nilai penting. Di balap ketahanan, kekompakan antarpembalap sering lebih menentukan daripada sekadar catatan waktu satu lap, karena perlombaan berjalan panjang dan menuntut pembagian tugas yang rapi.
Komunikasi di dalam tim, kemampuan membaca kondisi mobil, dan konsistensi sepanjang lomba menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dengan bekal itu, WRT tampak ingin memaksimalkan lagi kerja sama yang sudah terbangun dari musim sebelumnya.
Imola juga membuat formasi ini terasa semakin relevan. Sirkuit tersebut pernah memberi mereka hasil manis, dan kini kembali menjadi pusat perhatian karena dipilih sebagai lokasi pembuka musim FIA WEC 2026.
Fokus Sean tetap di target tertinggi
Sean menegaskan bahwa ambisinya tidak berubah meski ia kembali ke susunan yang sudah familiar. Ia masih mengejar kemenangan di Le Mans dan gelar juara dunia kelas LMGT3 bersama BMW M4 GT3 yang digunakan Team WRT.
“Target masih sama, berusaha menang di Le Mans sebagai balapan primadona FIA WEC dan sebisa mungkin menjadi juara dunia kelas LMGT3,” ujar Sean dalam rilis kepada Detik Sport. Pernyataan itu menunjukkan bahwa fokus utama Sean tetap berada pada hasil puncak di ajang ketahanan dunia.
Di sisi lain, kembalinya trio ini juga memberi sinyal bahwa WRT melihat manfaat besar dari stabilitas pembalap. Susunan yang tidak banyak berubah dapat membantu tim menjaga ritme kerja sejak awal musim, terutama saat menghadapi balapan dengan durasi panjang dan beban strategi yang tinggi.
Imola jadi titik awal pengukuran
Musim baru langsung dimulai dari lintasan yang sudah akrab bagi trio ini. Pada sesi Prologue 6 Hours of Imola, Team WRT tidak mengejar catatan terbaik, melainkan memusatkan perhatian pada persiapan balapan dan pemahaman terhadap karakter mobil.
Pendekatan serupa berlanjut ke Free Practice 1 dan Free Practice 2. Pada FP1, Augusto Farfus mencatat waktu 1 menit 43,151 detik dan membawa mobil nomor 32 menempati posisi kedelapan.
Di FP2, tim lebih fokus pada simulasi jarak jauh atau long run. Hasilnya, posisi mereka turun ke urutan ke-17, tetapi data yang terkumpul dianggap lebih bernilai untuk membaca daya tahan mobil saat lomba sungguhan berlangsung.
Selama program tersebut, Farfus mencatat rata-rata waktu terbaik 1 menit 44,420 detik. Angka itu memperlihatkan bahwa WRT memilih bekerja secara terukur dan tidak terpaku pada kecepatan instan.
Kalender berubah, perhatian tetap tertuju ke seri pembuka
Musim 2026 juga datang dengan penyesuaian kalender FIA WEC. 6 Hours of Imola kini naik menjadi seri pembuka, sementara Qatar 1812KM bergeser ke putaran ketujuh setelah penyesuaian jadwal akibat situasi konflik di Timur Tengah.
Perubahan itu membuat seri di Imola menjadi semakin penting. Selain menjadi balapan pertama musim, ajang tersebut juga menjadi tolok ukur awal untuk melihat kesiapan tim-tim peserta, termasuk sejauh mana BMW M4 GT3 nomor 32 bisa tampil kompetitif.
Farfus menyambut kembalinya kerja sama tersebut dengan optimistis. Ia berharap pengalaman yang sudah dibangun bersama dapat membuat tim lebih matang dan stabil sejak balapan pertama.
“Semoga kami bertambah matang sebagai tim. Dan memulai balapan di Imola selalu menyenangkan,” kata Farfus. Ucapan itu memperlihatkan bahwa Team WRT datang ke FIA WEC 2026 dengan pijakan pengalaman yang kuat, sembari mengandalkan chemistry yang sudah terbentuk dari musim sebelumnya.







