ByteDance memperkenalkan Seedance 2.5 sebagai model AI pembuat video yang mampu menghasilkan video hingga 30 detik hanya dari satu prompt. Bagi pasar AI video yang bergerak cepat, tambahan durasi ini memberi ruang lebih besar untuk adegan, transisi, dan alur visual yang lebih utuh.
Model ini juga memperluas kontrol kreatif secara signifikan. Dalam satu prompt, pengguna dapat memasukkan hingga 50 referensi berupa gambar, video, dan file audio untuk membantu sistem menangkap hasil yang diinginkan dengan lebih presisi.
Kontrol yang lebih luas untuk kreator
Dibanding Seedance 2.0, perubahan pada Seedance 2.5 terlihat jelas pada batas input referensi. Versi sebelumnya hanya menerima hingga 12 bahan referensi, sedangkan model baru ini menaikkan kapasitasnya menjadi 50 referensi dalam satu prompt.
Perubahan tersebut penting karena sistem video generatif sangat bergantung pada konteks yang diberikan pengguna. Semakin banyak referensi yang masuk, semakin besar peluang hasil video mendekati konsep visual, gerak, dan nuansa yang dibayangkan pembuatnya.
Dukungan terhadap gambar, video, dan audio dalam satu rangkaian prompt juga membuat proses kerja lebih fleksibel. Model ini tidak hanya mengandalkan deskripsi teks, tetapi juga dapat diarahkan melalui contoh visual dan suara yang lebih konkret.
Peluncuran di tengah sorotan besar
Peluncuran Seedance 2.5 diumumkan pada Selasa dalam sebuah konferensi di Beijing, tidak lama setelah ByteDance merilis Seedance 2.0. Perusahaan induk TikTok itu berencana menggulirkan model baru ini di China bulan depan, sementara jadwal peluncuran globalnya belum diumumkan.
Seedance 2.0 sempat menjadi sorotan setelah digunakan untuk membuat video hiper-realistis, termasuk klip pertarungan Tom Cruise melawan Brad Pitt yang ramai dibicarakan di internet. Kehadiran Seedance 2.5 membuat perhatian publik terhadap lini AI video ByteDance kembali meningkat.
Video teaser Seedance 2.5 kini ikut beredar dan memicu percakapan online. Minat publik terlihat tinggi karena ByteDance tidak hanya menambah durasi video, tetapi juga memberi alat kendali yang lebih rinci kepada pengguna.
Bayang-bayang sengketa hak cipta belum hilang
Kemajuan teknis ini datang dengan latar yang tidak sepenuhnya mulus. Peluncuran Seedance 2.0 di China pada Februari sempat memicu kontroversi setelah pengguna membuat video hiper-realistis yang menampilkan selebritas Hollywood dan karakter berhak cipta dari waralaba seperti Marvel dan Star Wars.
Klip-klip tersebut menyebar luas dan memicu keberatan dari studio besar Hollywood. Disney menuduh ByteDance menggunakan karakternya untuk melatih model dan mendistribusikan materi berhak cipta sebagai karya seni domain publik.
Paramount Skydance juga menilai tindakan perusahaan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak kekayaan intelektualnya. Warner Bros. Discovery dan Netflix kemudian ikut bergabung dalam sengketa hukum tersebut.
Kontroversi itu menjadi konteks penting bagi kelahiran Seedance 2.5. Semakin kuat kemampuan model video generatif, semakin besar pula perhatian terhadap batas penggunaan wajah realistis, tokoh terkenal, dan materi berhak cipta.
Distribusi global masih belum jelas
Meski sempat diterpa polemik, ByteDance tetap meluncurkan Seedance 2.0 ke lebih dari 100 negara. Namun, model itu tidak dirilis di Amerika Serikat, sebuah detail yang ikut menambah perhatian terhadap strategi distribusi perusahaan.
Untuk mengurangi risiko hukum lebih lanjut, BytePlus menerapkan pembatasan yang mencegah penggunaan wajah manusia realistis dalam prompt video. Langkah ini menunjukkan bahwa ekspansi teknologi AI video kini berjalan beriringan dengan upaya pembatasan penggunaan tertentu.
Sampai saat ini, ByteDance baru memastikan peluncuran Seedance 2.5 di China bulan depan. Nasib peluncuran globalnya masih belum diketahui, padahal kemampuan membuat video setengah menit dari satu prompt dan dukungan hingga 50 referensi berpotensi menjadikannya salah satu model AI video yang paling diperhatikan saat ini.
