Selat Hormuz Kembali Dijaga Ketat, AS Akui Kawal Puluhan Kapal Dagang Di Tengah Tegangan Dengan Iran

Selat Hormuz kembali menjadi titik pengawasan paling sensitif setelah Amerika Serikat mengaku telah mengawal sekitar 70 kapal dagang yang melintas di jalur itu dalam tiga pekan terakhir. Angka tersebut menegaskan bahwa lalu lintas di selat sempit yang sangat penting bagi pelayaran kawasan Teluk itu belum benar-benar lepas dari sorotan di tengah ketegangan yang masih berjalan dengan Iran.

Pengawalan itu juga menarik perhatian karena sebelumnya CENTCOM sempat membantah laporan mengenai dimulainya kembali pendampingan kapal di Selat Hormuz. Kini, keberadaan pengawalan tersebut kembali mencuat ketika Washington dan Teheran masih saling menguji posisi di lapangan.

Menurut sumber yang dikutip New York Times, tidak ada rincian yang diungkap mengenai kapal mana saja yang dikawal atau rute pelayarannya. Seorang pejabat hanya memastikan bahwa sedikitnya satu kapal sempat melewati wilayah dekat pantai Iran.

Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan tetap memantau lalu lintas kapal dagang di selat itu. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Iran juga masih menempatkan Hormuz sebagai titik penting dalam kalkulasi keamanannya.

Pengawasan ketat di jalur yang sangat vital

Selat Hormuz sudah lama dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling sensitif di dunia. Banyak kapal dagang melewatinya, sehingga setiap peningkatan pengawasan segera memicu perhatian internasional.

Kondisi ini membuat setiap perubahan sikap dari AS maupun Iran langsung berdampak pada persepsi keamanan pelayaran. Dalam situasi seperti sekarang, pengawalan kapal oleh AS dan pemantauan Iran sama-sama memperlihatkan bahwa jalur tersebut masih jauh dari kata tenang.

Upaya meredakan ketegangan belum sepenuhnya menenangkan situasi

Perkembangan terbaru ini muncul di tengah upaya meredakan ketegangan antara AS dan Iran. Pada 29 Mei 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut.

Namun, penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan militer AS masih melanjutkan blokade meski pengumuman itu sudah disampaikan. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas di lapangan masih rapuh.

Pekan ini, pejabat AS dan Iran juga sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Iran turut berkomitmen membersihkan seluruh ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, sementara pengiriman melalui selat itu tidak akan dikenai pungutan apa pun.

Bayang-bayang konflik sebelumnya masih terasa

Ketegangan yang terjadi sekarang tidak muncul tanpa latar belakang. Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target-target di Iran yang disebut telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Sesudah itu, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata pada 8 April, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil. AS kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebelum muncul perkembangan terbaru soal pengawalan puluhan kapal dagang di Selat Hormuz.

Rangkaian peristiwa tersebut membuat jalur ini terus berada dalam sorotan. Setiap kebijakan baru, baik dari Washington maupun Teheran, langsung memengaruhi lalu lintas kapal niaga yang melintas di kawasan itu.

Source: www.viva.co.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer