Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian setelah Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap kehadiran kapal perang Inggris dan Prancis di kawasan itu. Teheran menegaskan angkatan bersenjatanya akan memberi “respons tegas dan segera” jika kapal-kapal tersebut dikirim ke jalur strategis itu.
Peringatan itu muncul ketika Inggris dan Prancis bersiap memimpin pertemuan multinasional para menteri pertahanan pada Selasa. Pertemuan tersebut akan membahas rencana militer untuk memulihkan arus perdagangan melalui Selat Hormuz, dan lebih dari 40 negara disebut akan terlibat dalam misi multinasional itu.
Di saat yang sama, Washington dan Teheran masih berada dalam jalur diplomasi yang rapuh. Iran mengatakan telah mengirim balasan atas proposal terbaru Amerika Serikat melalui Pakistan, sementara Presiden Donald Trump menilai jawaban itu “totally unacceptable” tanpa menjelaskan isi respons yang dimaksud.
Presiden Masoud Pezeshkian juga menegaskan lewat X bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk kepada musuh.” Sikap itu menunjukkan Teheran tetap membuka ruang bicara, tetapi tidak ingin dialog dipersepsikan sebagai bentuk menyerah kepada tekanan.
Tekanan dari Washington juga bergerak ke arah lain. Seorang pejabat senior pemerintahan Amerika mengatakan Trump diperkirakan akan menekan Presiden China Xi Jinping soal Iran saat berkunjung ke Beijing pekan ini.
Menurut pejabat itu, Trump akan “menerapkan tekanan” dan sebelumnya telah melakukan hal serupa dalam percakapan dengan Xi. Langkah tersebut menambah lapisan baru dalam upaya Amerika mencari jalan keluar dari konflik yang terus memanas di kawasan.
Ketegangan di laut ikut meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan akan menargetkan situs-situs Amerika di Timur Tengah dan “kapal musuh” jika tanker Iran diserang. Ancaman itu muncul sehari setelah serangan Amerika terhadap dua tanker Iran di Teluk Oman, menurut media Iran.
Garda Revolusi menyebut setiap serangan terhadap tanker dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan berat terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh. Dengan situasi seperti itu, jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz makin rentan terseret dalam eskalasi yang lebih luas.
Di lapangan, ancaman itu juga tercermin dari sejumlah insiden drone di Teluk pada Minggu. Satu drone menghantam kapal kargo yang sedang berlayar menuju Qatar dari Abu Dhabi, dan Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan ada api kecil di kapal tersebut tanpa korban jiwa.
Militer Kuwait juga menyatakan telah menggagalkan serangan drone pada dini hari. Rangkaian kejadian ini memperkuat kekhawatiran bahwa fasilitas sipil dan jalur maritim di kawasan ikut terpapar ketegangan yang terus naik.
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan perang melawan Iran belum bisa dianggap selesai. Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS News, ia menilai stok uranium Iran masih harus “diambil” dan situs-situs pengayaan harus dibongkar.
Netanyahu menyebut perang belum berakhir karena masih ada material nuklir yang diperkaya di Iran. Pernyataan itu menegaskan bahwa Israel masih melihat ancaman nuklir sebagai inti persoalan, meski diplomasi dan tekanan internasional tetap berlangsung bersamaan.
Di tengah semua perkembangan itu, kabar dari dalam Iran juga ikut mencuat. Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi dibebaskan dengan jaminan setelah muncul kekhawatiran atas kondisi kesehatannya, lalu dipindahkan ke Teheran untuk perawatan medis.
Para pendukungnya mengatakan Mohammadi sebelumnya menjalani hukuman selama 10 hari rawat inap di Zanjan, Iran utara. Yayasan yang terkait dengannya menyebut ia mendapat penangguhan hukuman dengan jaminan besar, tanpa menjelaskan lebih jauh kondisi hukumnya.
Selat Hormuz pun tetap menjadi titik paling sensitif di tengah pertemuan diplomatik, ancaman militer, dan serangan drone yang berjalan serentak. Sementara itu, langkah Amerika, sikap Iran, dan pengerahan kapal perang dari Inggris serta Prancis membuat kawasan tersebut masih jauh dari reda.







