Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat belum menghentikan apa yang mereka sebut sebagai aksi agresi. Pernyataan itu kembali menempatkan jalur pelayaran strategis tersebut di pusat kekhawatiran pasar energi global.
Selat Hormuz menjadi salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk ke pasar dunia. Karena itu, setiap sinyal gangguan di jalur ini segera memunculkan tekanan baru terhadap pasokan energi internasional.
Tekanan Iran Tidak Berhenti pada Hormuz
IRGC juga menyampaikan bahwa operasi pembalasan terhadap Amerika Serikat masih akan terus berlangsung. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, dan dikutip AFP oleh www.viva.co.id, mereka menegaskan bahwa penutupan selat akan dipertahankan sampai agresi AS berakhir.
“Operasi pembalasan para pejuang akan terus berlanjut, dan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai Amerika Serikat mengakhiri tindakan agresinya,” demikian pernyataan IRGC.
Selain Hormuz, Iran juga memperingatkan bahwa jalur ekspor energi lain di kawasan dapat ikut terdampak jika konflik terus meningkat. Pihak Iran tidak menyebutkan secara rinci jalur mana yang dimaksud, tetapi pernyataan itu menambah lapisan ketidakpastian bagi arus perdagangan energi dari kawasan Teluk.
Ekspor Energi Dijadikan Alat Tekan
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menyebut bahwa lawan mereka harus siap menghadapi konsekuensi setelah armada Amerika Serikat dianggap menghambat rute ekspor minyak dan gas melalui Samudra Hindia. Kalimat itu menunjukkan bahwa Iran melihat energi sebagai salah satu instrumen utama dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Musuh harus tahu bahwa sekarang setelah kapal-kapal perampok maritimnya memblokir rute Samudra Hindia untuk ekspor minyak dan gas ke dunia — sehingga membahayakan kepentingan saingan ekonomi Amerika — mereka juga harus mengharapkan penutupan rute ekspor minyak dan gas lainnya yang melayani kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya,” kata IRGC.
IRGC juga menegaskan bahwa distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk tidak akan berjalan normal apabila tekanan terhadap Iran terus berlanjut. Mereka merumuskannya dalam kalimat yang sangat tegas: “Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan tersedia untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun.”
| Isu Utama | Pernyataan IRGC | Sikap Amerika Serikat |
|---|---|---|
| Selat Hormuz | Tetap tertutup sampai agresi AS berakhir | Washington menilai jalur itu tetap terbuka |
| Jalur ekspor energi lain | Berpotensi menjadi sasaran jika konflik meningkat | Menolak klaim Iran atas kontrol pelayaran |
| Biaya transit kapal | Tidak disebut sebagai tuntutan utama | Menegaskan tidak ada pihak berhak memungut tarif |
Washington Menolak Klaim Teheran
Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat menolak klaim Iran yang menyebut Teheran dapat mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Washington menegaskan bahwa jalur internasional itu tetap terbuka dan dapat dilalui kapal-kapal yang melintas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa tidak seharusnya ada negara yang memungut biaya bagi kapal yang melewati selat tersebut. Pernyataan itu muncul setelah dirinya membatalkan rencana pemberlakuan tarif 20 persen terhadap setiap muatan kargo yang melintas di jalur strategis itu.
Trump mengatakan bahwa negara-negara Teluk justru lebih tertarik meningkatkan investasi di Amerika Serikat ketimbang mengandalkan pemasukan dari biaya transit kapal. Ia menyebut telah berbicara dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait mengenai peluang investasi tersebut.
“Kami ingin mereka melakukan investasi besar-besaran di Amerika Serikat, bukannya memungut biaya. Dan saya sebenarnya menyukai hal tersebut, karena menurut saya, tidak seharusnya ada pihak yang memungut biaya untuk selat tersebut atau selat lainnya di mana pun yang melibatkan belahan dunia lainnya,” kata Trump saat bertemu Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Ketegangan yang saling berlawanan antara Iran dan Amerika Serikat membuat pasar global tetap siaga. Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian utama karena jalur ini memegang peranan penting dalam distribusi minyak dan gas dunia, sementara ancaman penutupan masih terus dikaitkan dengan konflik yang belum mereda.
Source: www.viva.co.id






