Bayangan konflik di Selat Hormuz kembali menegang ketika jalur diplomasi Iran dan Amerika Serikat belum menghasilkan titik temu yang jelas. Di saat pembicaraan masih berlangsung, kedua pihak justru terus melontarkan pernyataan keras yang membuat peluang meredanya ketegangan terasa rapuh.
Belum ada sinyal yang cukup kuat bahwa negosiasi itu akan segera berujung pada kesepakatan komprehensif. Masa gencatan senjata yang disebut kian dekat dengan akhir juga menambah kekhawatiran bahwa situasi dapat bergeser lagi ke arah konfrontasi.
Pembicaraan masih maju, tetapi belum sampai inti
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut adanya perkembangan dalam pembicaraan. Namun, ia menegaskan masih banyak celah dan pokok persoalan yang belum diselesaikan.
Ghalibaf menilai Iran masih jauh dari tahap perundingan final. Artinya, kemajuan yang ada belum cukup untuk menutup perbedaan mendasar di meja negosiasi.
Nada serupa juga muncul dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menolak klaim Presiden AS Donald Trump yang dianggap tidak punya dasar untuk merampas hak nuklir Teheran.
“Trump mengatakan Iran tidak dapat memanfaatkan hak nuklirnya, tetapi tidak mengatakan karena kejahatan apa. Siapa dia hingga bisa merampas hak suatu bangsa?” kata Pezeshkian, dikutip dari ISNA.
Dua isu paling sulit: nuklir dan Selat Hormuz
Dalam perundingan ini, masa depan program nuklir Iran menjadi salah satu titik tersulit. Selain itu, status Selat Hormuz juga ikut menjadi persoalan yang belum menemukan formula bersama.
Ketegangan di jalur strategis itu meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC kembali memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz. Langkah itu diambil hanya 24 jam setelah jalur tersebut sempat dibuka kembali.
Pembatasan tersebut disebut sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang masih berlangsung. Dalam sikap yang sama kerasnya, Ghalibaf mengecam blokade itu dan menyebut tindakan Washington sebagai langkah “bodoh” dan “bebal”.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran tidak akan memberi kelonggaran bagi pihak lain untuk melintasi selat itu jika kapal-kapal Iran tetap diblokade. Ghalibaf menegaskan militer Iran berada dalam keadaan siap penuh apabila AS kembali memilih jalur permusuhan.
Washington kirim pesan yang saling bertabrakan
Dari sisi Amerika Serikat, Donald Trump memberi sinyal yang tidak sepenuhnya sejalan. Ia menuduh Iran “bertingkah” di Selat Hormuz dan mengatakan AS tidak akan bisa “diperas”.
Namun pada saat yang sama, Trump juga menyebut komunikasi antara pejabat kedua negara masih berjalan. Ia bahkan mengatakan negosiasi berlangsung dengan sangat baik.
Pernyataan itu ikut disertai ancaman. Trump sempat mengatakan AS harus “mulai menjatuhkan bom lagi” jika kesepakatan tidak tercapai sebelum batas waktu gencatan senjata habis.
Kombinasi antara nada keras dan klaim bahwa negosiasi tetap berjalan membuat arah pembicaraan semakin sulit dibaca. Jalur komunikasi memang tidak tertutup, tetapi opsi tekanan militer belum benar-benar disingkirkan.
Mediasi juga belum menemukan jadwal pasti
Upaya melanjutkan putaran kedua pembicaraan damai di Islamabad belum menghasilkan perkembangan berarti. Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan jadwal pertemuan belum bisa ditetapkan sebelum kedua pihak menyepakati “kerangka pemahaman”.
Teheran menilai Washington masih memegang posisi “maksimalis” yang membuat ruang kompromi semakin sempit. Dalam kondisi seperti itu, mediasi berjalan lebih lambat dibandingkan naiknya ketegangan di lapangan dan dalam pernyataan politik kedua negara.
Pengamat dari Centre for Middle East Strategic Studies, Abbas Aslani, melihat Iran kini menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu jalur negosiasi dan ancaman militer. Ia juga mempertanyakan kesungguhan AS dalam mencari kesepakatan di tengah blokade laut dan meningkatnya kehadiran militer di kawasan.
Gencatan senjata makin rentan
Hingga saat ini belum tampak pembahasan yang jelas mengenai perpanjangan gencatan senjata yang segera habis. Situasi itu membuat ruang diplomasi semakin sempit, sementara sinyal konfrontasi tetap dijaga oleh kedua pihak.
Selama perbedaan mendasar belum dijembatani dan blokade laut masih menjadi sumber sengketa, ketegangan di Selat Hormuz tetap rawan berubah menjadi konflik baru. Negosiasi Iran-AS pun masih berada di titik yang sangat rapuh, dengan tekanan politik dan militer berjalan beriringan.
Source: mediaindonesia.com