Selat Hormuz Terancam Ditutup, Saling Serang AS-Iran Bikin Pasar Minyak Bergejolak

Ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi titik paling mengkhawatirkan dalam eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur pelayaran itu memegang peran vital dalam distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar global.

Harga minyak pun bergerak naik hingga 2% pada perdagangan Kamis setelah pasar menilai pasokan dari kawasan Teluk berisiko terganggu. Tekanan tidak berhenti di sektor energi, karena bursa saham Asia ikut melemah mengikuti sentimen negatif dari Wall Street.

Serangan Balasan Memperlebar Krisis

Komando Pusat AS atau Centcom mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah sasaran strategis di wilayah Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan pertahanan diri atas agresi berkelanjutan yang dituduhkan kepada Teheran.

Serangan udara yang dimulai sejak Rabu sore waktu Washington atau Kamis dini hari waktu Iran disebut menyasar wilayah selatan Iran. Ledakan dilaporkan terdengar di titik-titik penting seperti Bandar Abbas, Qeshm, dan Minab yang berada dekat Selat Hormuz.

Centcom menyatakan operasi tersebut sudah selesai dengan target spesifik pada fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, dan infrastruktur pertahanan udara Iran. Dalam pernyataan resminya, Centcom mengatakan pasukan AS menggunakan amunisi presisi terhadap target yang dinilai mengancam personel AS dan kapal-kapal komersial internasional.

Iran Membalas dan Mengaktifkan Peringatan di Teluk

Respons Iran datang cepat melalui Garda Revolusi Iran atau IRGC yang melancarkan serangan balasan ke fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Media pemerintah Iran menyebut instalasi komunikasi dan radar milik Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi sasaran utama.

Dampaknya langsung terasa di kawasan. Bahrain mengeluarkan peringatan serangan udara bagi warga sipil, sementara Kuwait sempat menutup ruang udaranya setelah mengaktifkan sistem pertahanan udara.

Ancaman yang paling mengkhawatirkan datang dari Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi. Ia memperingatkan bahwa Selat Hormuz kini ditutup sepenuhnya bagi pelayaran internasional.

“Apakah kalian ingin membuat Selat Hormuz yang suci menjadi tidak aman? Kami akan menjadikan kawasan ini neraka bagi kalian,” ujar Mousavi.

Dorongan Diplomasi Masih Ada, tetapi Ruang Damai Menyempit

Di tengah meningkatnya aksi militer, upaya diplomasi belum sepenuhnya berhenti. Sejumlah mediator dari Qatar dilaporkan masih berada di Teheran untuk mencoba menjembatani perbedaan yang makin tajam antara kedua pihak.

Meski begitu, situasi di lapangan membuat peluang dialog damai terlihat semakin sempit. Serangan fisik di dua negara tetangga dan ancaman terhadap jalur pelayaran vital menempatkan konflik ini pada salah satu titik paling genting sejak pecah tiga bulan lalu.

Presiden AS Donald Trump juga memberi sinyal bahwa serangan akan terus berlanjut jika syarat dari Washington tidak dipenuhi. Trump menuduh Iran sengaja memperlambat negosiasi untuk mengakhiri perang yang berlangsung selama tiga bulan, lalu mengatakan, “Mereka terus mempermainkan kami. Sekarang mereka harus membayar harganya.”

Para pengamat menilai perkembangan terbaru ini dapat membuat pasar energi dan kawasan Timur Tengah tetap berada dalam kondisi waspada. Selama serangan balasan terus terjadi dan Selat Hormuz masih berada dalam bayang-bayang penutupan, tekanan terhadap harga minyak dan stabilitas regional kemungkinan belum akan mereda.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait