Teknologi deteksi obat palsu tidak selalu harus datang dari laboratorium mahal. Tim dari University of California, Riverside justru menunjukkan bahwa sensor sederhana dari mainan robot bisa dipakai untuk mengenali pil yang tidak sesuai dengan obat sah.
Pendekatan itu menarik karena dibuat murah, cepat, dan cukup ringkas untuk memeriksa obat mencurigakan sebelum beredar lebih jauh. Dalam studi pembuktian konsep yang dipublikasikan di Analytical Chemistry, alat ini bahkan disebut hanya membutuhkan biaya sekitar $33 untuk dibuat, dengan potensi turun sampai $5.
Membaca pola larutnya pil
Cara kerjanya tidak bergantung pada mesin kompleks. Peneliti melarutkan pil dalam air, lalu memakai sensor sederhana dari mainan untuk membaca cahaya yang dipantulkan partikel saat obat terurai.
Dari perubahan jumlah partikel dari waktu ke waktu, tim menyusun pola yang mereka sebut disintegration fingerprint atau DF. Jejak pembubaran ini berfungsi seperti sidik jari obat karena pil legal semestinya larut dengan pola yang konsisten.
Saat pola pembubaran itu berbeda dari yang diharapkan, sistem dapat menandai pil tersebut sebagai tidak cocok dengan obat sah. Dengan cara ini, identifikasi bisa dilakukan tanpa perangkat yang rumit.
Hasil awal yang cukup menjanjikan
Dalam pengujian awal, peneliti memakai 32 obat sebagai sampel. Daftarnya mencakup antibiotik, opioid, antidepresan, dan pil KB.
Hasilnya menunjukkan DF mampu membedakan obat asli dan palsu dalam 90% kasus. Ketika tim menguji berbagai versi obat yang mirip, sistem ini justru berhasil mengenalinya dengan tepat 100% dari waktu.
Alat tersebut juga bisa membedakan aspirin merek ternama dan merek toko. Selain itu, sistem dapat memisahkan versi Amerika dan Kanada dari obat yang sama.
Ancaman obat palsu masih luas
Kebutuhan alat seperti ini muncul karena obat palsu terus menjadi ancaman serius. Di Amerika Serikat, apotek ilegal di internet menjual obat murah tanpa resep, dan sebagian di antaranya tercampur fentanyl.
Skala masalahnya jauh lebih besar di tingkat global. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 10% produk medis di negara berkembang palsu atau tidak memenuhi standar.
Laporan kesehatan PBB juga menyebut hampir 500.000 orang di sub-Sahara Afrika meninggal setiap tahun akibat obat palsu. Angka itu menunjukkan betapa pentingnya alat deteksi yang cepat, sederhana, dan murah.
Murah, tetapi belum siap dipakai luas
Meski menjanjikan, teknologi ini belum siap digunakan secara massal. Tingkat false negative sebesar 10% masih terlalu tinggi untuk penggunaan lapangan yang menuntut akurasi lebih baik.
Peneliti juga menegaskan bahwa jarak antara hasil laboratorium dan performa di dunia nyata masih besar. Selain itu, disintegration fingerprinting belum diuji pada obat antimalaria palsu maupun asli, padahal area itu sangat penting.
Desainnya yang open source membuat pendekatan ini tetap menarik untuk dikembangkan lebih jauh. Dengan dasar sensor murah dari mainan robot, alat seperti ini berpotensi menjadi cara sederhana untuk membantu mengenali obat palsu di tempat yang paling membutuhkan.
