Tekanan Air Menopang 97 Persen Es Antartika, Gletser Melaju Lebih Cepat ke Laut

Author: Redaksi Android62

Tekanan air lelehan di bawah Gletser Langhovde, Antartika, tercatat mampu menopang hingga 97 persen berat es yang berada di atasnya. Kondisi ini mengurangi gesekan dengan batuan dasar dan membuat gletser bergerak menuju laut 10 hingga 20 persen lebih cepat.

Pengukuran langsung tersebut memberi bukti bahwa pencairan di permukaan dapat memengaruhi pergerakan es hingga ke bagian paling bawah gletser. Temuan ini menjadi perhatian karena pemanasan iklim berpotensi menambah volume air lelehan di Antartika.

Tekanan Air Mengangkat Dasar Gletser

Air yang mencapai dasar es dapat meningkatkan tekanan di antara gletser dan batuan di bawahnya. Tekanan itu sedikit mengangkat tubuh gletser sehingga bidang kontak yang sebelumnya menahan es menjadi lebih licin.

Profesor Shin Sugiyama dari Hokkaido University menjelaskan bahwa perubahan tersebut paling terlihat ketika pencairan permukaan berlangsung intens. Hujan langka pada Januari 2022 juga dilaporkan kembali meningkatkan tekanan air di dasar Gletser Langhovde.

“Gletser terangkat sedikit, dan dengan gesekan yang berkurang, luncurannya di sepanjang dasar gletser bertambah cepat 10 hingga 20 persen,” kata Sugiyama. Pengamatan ini disebut sebagai pengukuran langsung pertama terhadap proses tersebut di Antartika.

Aspek Pengamatan Hasil di Gletser Langhovde
Kedalaman pengeboran Lebih dari 550 meter
Tekanan air di dasar es Menopang hingga 97 persen berat es
Kenaikan laju luncur 10 hingga 20 persen
Lapisan air laut bawah es Tebal tiga meter

Air Permukaan Menembus Retakan Es

Tim peneliti menemukan bahwa air dari danau serta kolam di permukaan tidak hanya mengalir di atas es. Air dapat masuk ke retakan lalu turun jauh melalui proses hydrofracturing.

Dalam proses tersebut, beban air yang terkumpul mendorong retakan es semakin dalam. Retakan kemudian membuka jalur yang memungkinkan air mengalir langsung menuju dasar gletser.

Untuk meneliti bagian yang tidak dapat diamati satelit, tim Sugiyama mengebor es menggunakan teknik hot-water jet. Lubang bor itu memungkinkan kamera dan sensor tekanan diturunkan hingga ke dasar Gletser Langhovde.

Data dari instrumen tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara kondisi di permukaan dan dinamika di bawah lapisan es. Sebelumnya, perilaku serupa telah tercatat pada gletser di Eropa, Alaska, dan Greenland.

Dampak bagi Lapisan Es Antartika

Bukti dari Langhovde memperkuat kekhawatiran mengenai laju kehilangan massa lapisan es Antartika. Es yang mengalir ke laut dilaporkan telah melebihi akumulasi salju di daratan.

Jika iklim yang menghangat menghasilkan lebih banyak air lelehan, semakin besar pula peluang air mencapai dasar gletser. Keadaan itu dapat mempercepat luncuran es dan meningkatkan aliran massa es ke laut.

Antartika menyimpan sekitar 90 persen es gletser dunia. Sugiyama mengingatkan bahwa apabila seluruh lapisan es di kawasan itu mencair dan masuk ke laut, permukaan laut dapat naik sekitar 60 meter.

Ekosistem yang Bertahan di Bawah Es

Kamera bawah es juga merekam kehidupan laut yang tidak diduga di lingkungan dingin dan gelap tersebut. Peneliti melihat seekor anemon laut serta beberapa spons bertangkai ramping yang menempel pada batu.

Hewan-hewan itu hidup dalam lapisan air laut setebal tiga meter yang tertutup 474 meter es. Lokasinya berada beberapa ratus meter melewati titik ketika gletser terpisah dari dasar laut.

Penemuan itu menunjukkan bahwa perubahan pada sistem gletser tidak hanya berkaitan dengan kenaikan muka laut. Di bawah ratusan meter es, terdapat ekosistem tersembunyi yang juga bergantung pada kondisi lingkungan Antartika.

Berita Terbaru