5,5 Miliar Serangan Siber Menekan Perangkat Kerja, Hexnode Perluas Pasar

Author: Redaksi Android62

Sekitar 5,5 miliar insiden siber tercatat di Indonesia sepanjang 2025, menandakan tekanan keamanan digital yang semakin besar bagi perusahaan. Angka dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) itu meningkat 714% dibandingkan rata-rata insiden selama empat tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut membuat perangkat yang digunakan karyawan menjadi titik yang tidak dapat diabaikan dalam strategi keamanan. Laptop kantor, ponsel pribadi, tablet, hingga komputer yang dipakai dari rumah dapat menjadi jalur masuk ke sistem perusahaan apabila tidak dikelola secara konsisten.

Risiko ini menjadi alasan meningkatnya kebutuhan terhadap Unified Endpoint Management atau UEM. Sistem tersebut dirancang untuk membantu organisasi mengatur keamanan banyak perangkat dari satu konsol terpusat.

Hexnode melihat kebutuhan itu sebagai peluang untuk memperluas pasar di Indonesia melalui kerja sama dengan Ingram Micro. Ingram Micro ditunjuk sebagai distributor resmi untuk menyalurkan platform UEM Hexnode melalui jaringan mitranya.

Kerja sama tersebut tidak hanya menempatkan produk di jalur distribusi, tetapi juga membuka ruang bagi layanan penerapan dan dukungan teknis. Reseller, system integrator, serta managed service provider atau MSP dapat menawarkan solusi sesuai kebutuhan organisasi pelanggan.

Periode Jumlah Insiden Siber Keterangan
Sepanjang 2025 Sekitar 5,5 miliar Naik 714% dari rata-rata empat tahun sebelumnya
Beberapa bulan pertama 2026 Sekitar 1,52 miliar Ancaman terhadap infrastruktur digital masih meningkat

Data BSSN juga menunjukkan persoalan tersebut belum mereda pada awal 2026. Dalam beberapa bulan pertama tahun ini, tercatat sekitar 1,52 miliar insiden siber yang mengindikasikan ancaman terhadap infrastruktur digital masih meningkat.

Pengelolaan Perangkat dalam Satu Konsol

Platform Hexnode mendukung perangkat dengan sistem operasi Windows, macOS, Linux, Android, dan iOS. Kemampuan ini relevan bagi perusahaan yang memiliki lingkungan kerja campuran dan tidak lagi hanya mengandalkan komputer kantor.

Pengelolaan endpoint mencakup pengaturan keamanan, pembaruan perangkat lunak, pemantauan jarak jauh, serta otomatisasi. Pembaruan menjadi bagian penting karena perangkat yang belum menerima patch dapat menyimpan celah yang berisiko dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Pemantauan jarak jauh juga menjadi kebutuhan ketika pola kerja hibrida membuat perangkat digunakan di luar jaringan kantor. Perusahaan perlu menjaga standar perlindungan yang sama, baik saat perangkat berada di lokasi kerja maupun di rumah karyawan.

Hexnode menyatakan platformnya turut mendukung kebutuhan kepatuhan terhadap Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi atau UU PDP. Aspek ini penting bagi organisasi yang mengelola perangkat sebagai salah satu akses menuju data perusahaan.

Peran Mitra dalam Adopsi Teknologi

Presiden Direktur Ingram Micro Mulia Dewi Karnadi menyatakan penunjukan Hexnode diharapkan menciptakan peluang bagi reseller dan system integrator. Peluang itu terutama berkaitan dengan pengembangan layanan berbasis managed service.

“Melalui dukungan teknis, integrasi solusi, dan strategi go-to-market, kami ingin membantu mitra memperluas layanan sekaligus mempercepat adopsi pengelolaan perangkat modern di Indonesia,” ujar Mulia. Pernyataan tersebut menempatkan kemampuan penerapan solusi sebagai bagian penting dari peran distributor.

Enterprise Sales Director ASEAN Hexnode Keith O’Leary menilai Indonesia merupakan pasar prospektif di tengah percepatan transformasi digital lintas sektor. Menurutnya, kebutuhan pengelolaan endpoint akan terus bertambah ketika perangkat perusahaan semakin kompleks untuk diawasi.

Bagi perusahaan, keamanan perangkat kerja kini berkaitan langsung dengan perlindungan data dan efisiensi operasional. Meningkatnya penggunaan perangkat beragam membuat pengelolaan endpoint terpusat menjadi salah satu pendekatan yang semakin relevan.

Berita Terbaru