Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia mulai terasa jauh melampaui kerusakan fisik di Tuapse. Di kota pesisir itu, warga kini berhadapan dengan asap hitam pekat, tetesan minyak, dan pencemaran garis pantai yang memunculkan apa yang mereka sebut sebagai hujan hitam beracun.
Kondisi tersebut muncul setelah kilang dan terminal minyak diserang pada malam hari. Partikel minyak turun bersama udara yang tercemar, sementara api di fasilitas energi terus menyala dan membuat kualitas udara di sekitar lokasi merosot tajam.
Kebakaran yang berulang di fasilitas minyak
Petugas pemadam kebakaran sudah berupaya memadamkan api di fasilitas penyimpanan sejak serangan pertama pada 16 April. Namun, api disebut kerap menyala kembali setelah serangan drone susulan menghantam area yang sama.
Serangan terbaru dilaporkan menghantam kilang minyak utama di Laut Hitam sebanyak empat kali dalam dua minggu. Akibatnya, kebakaran hebat berlangsung selama berhari-hari dan memperburuk keadaan di sekitar Tuapse.
Asap hitam pekat yang kembali terlihat menjadi tanda bahwa kerusakan di lapangan belum selesai. Dalam waktu yang sama, minyak juga jatuh ke permukiman dan mencemari garis pantai dalam skala yang meluas.
Ancaman kesehatan yang ikut membesar
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa kebakaran di fasilitas minyak dapat melepaskan senyawa berbahaya ke udara, termasuk benzena yang bersifat karsinogenik. Paparan zat ini dinilai berisiko memicu penyakit serius, termasuk leukemia.
Fenomena hujan hitam juga dipandang sebagai tanda polusi udara ekstrem. Kondisi itu disebut sangat berbahaya bagi lansia, anak-anak, serta warga dengan penyakit jantung dan paru-paru.
Vladimir Slivyak, kepala kelompok perlindungan lingkungan Rusia Ecodefense, menilai otoritas setempat seharusnya mengevakuasi seluruh warga Tuapse. Ia menyebut situasi itu sebagai kontaminasi udara yang ekstrem dan mengatakan partikel polutan di udara dapat menyebabkan kanker.
Warga resah, pejabat dinilai meremehkan
Presiden Vladimir Putin sempat mengakui adanya serangan itu pekan lalu, tetapi ia meremehkan risikonya dan menyebut situasi masih bisa ditangani. Badan pengawas konsumen Rusia, Rospotrebnadzor, juga menyatakan tidak ada risiko kesehatan bagi penduduk.
Pernyataan itu memicu kemarahan warga Tuapse. Seorang penduduk bernama Alina Orlova mengeluhkan kota yang dipenuhi asap dan rasa cemas terhadap kesehatan anak-anaknya.
Analis politik Andrei Kolesnikov menilai cara pandang Putin menunjukkan semakin jauhnya lingkar kekuasaan dari informasi buruk di lapangan. Menurut dia, kondisi seperti itu menyulitkan penyusunan kebijakan yang tepat untuk menghadapi krisis.
Tekanan yang ikut menghantam pendapatan energi
Di luar dampak kesehatan dan lingkungan, serangan Ukraina juga mulai menekan pendapatan energi Rusia. Berdasarkan data Kyiv School of Economics, serangan ke terminal minyak utama seperti Ust-Luga, Primorsk, dan Novorossiysk telah menyebabkan Rusia kehilangan sekitar US$2,2 miliar atau Rp37 triliun dalam pendapatan.
Data yang sama menyebut kilang Tuapse milik Rosneft dapat memerlukan biaya pembangunan ulang total senilai US$5 miliar. Pada April, produksi minyak Rusia juga dipotong sekitar 300.000 hingga 400.000 barel akibat gangguan di infrastruktur energi.
Borys Dodonov dari Kyiv School of Economics menyebut serangan itu sebagai sanksi kinetik Ukraina. Ia menilai drone berhasil menggerus peluang keuntungan Kremlin, meski pendapatan minyak Rusia sempat naik menjadi US$19 miliar pada Maret karena kenaikan harga global akibat konflik Iran.
Jangkauan drone Ukraina yang kini mampu menembus ribuan kilometer membuat serangan ke wilayah strategis Rusia terus menjadi perhatian. Tekanan itu tidak hanya menghantam fasilitas energi, tetapi juga memukul pusat pendapatan negara di kawasan Baltik dan Laut Hitam.
Source: mediaindonesia.com






