Kamp Pengungsian Kongo Jadi Titik Rawan Baru, Ebola Mengancam Menyebar Cepat

Author: Redaksi Android62

Ancaman penularan Ebola di kamp pengungsian padat di timur Kongo dinilai sangat mengkhawatirkan setelah dua kematian terkait penyakit itu terkonfirmasi di Kpangba. Badan pengungsi PBB menyebut risiko di lokasi seperti ini sangat tinggi karena kepadatan penghuni dan kondisi sanitasi yang buruk.

Kamp Kpangba menampung sekitar 30.000 pengungsi. Di banyak bagian kamp, tempat tinggal hanya berupa tenda dengan dinding terpal sehingga isolasi pasien menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Situasi di kamp yang mempercepat risiko

Kondisi kebersihan di kamp-kamp pengungsian itu juga dilaporkan sempit dan tidak memadai. Dalam sejumlah kasus, ratusan orang harus berbagi satu toilet, sementara praktik buang air besar sembarangan masih terjadi.

Seorang pekerja bantuan mengatakan dua korban tewas adalah seorang ibu dan anak perempuan yang meninggal pada 31 Mei dan 1 Juni. Keduanya baru diketahui positif Ebola setelah meninggal, usai pemeriksaan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Caitlin Brady, direktur negara sementara Danish Refugee Council di Kongo, mengatakan ada kekhawatiran besar bahwa Ebola dapat menyebar sangat cepat di kamp-kamp tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa kepanikan dapat mendorong orang-orang melarikan diri ke mana-mana, baik yang sempat kontak dengan pasien maupun yang tidak.

Wabah terus meluas di tiga provinsi

Sejak WHO menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 17 Mei, virus Ebola telah menyebar ke tiga provinsi, yakni Ituri, South Kivu, dan North Kivu. Ketiganya telah lama terdampak konflik dan menampung lebih dari 5 juta orang yang mengungsi.

Kondisi tersebut membuat penanganan wabah menjadi semakin sulit karena mobilitas warga tinggi dan layanan dasar terbatas. Pada Jumat, Kongo melaporkan 676 kasus terkonfirmasi dan 136 kematian, sementara Uganda sebagai negara tetangga juga mencatat 19 kasus.

Wabah ini melibatkan jenis langka Bundibugyo yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui. Petugas tanggap awal menyebut penyakit itu tidak terdeteksi selama berminggu-minggu, sehingga kini upaya respons harus mengejar penyebarannya.

Berita Terbaru