Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke Dahiyeh, wilayah pinggiran selatan Beirut, di tengah gencatan senjata yang masih berlaku dengan Hizbullah. Ledakan terdengar di sejumlah titik, sementara asap tebal terlihat membubung dari area yang menjadi sasaran.
Serangan itu dilakukan tanpa peringatan sebelumnya kepada warga, menurut laporan Anadolu. Kondisi tersebut kembali menempatkan ibu kota Lebanon dalam situasi yang rawan, karena Dahiyeh dikenal sebagai salah satu basis kuat Hizbullah di Beirut.
Gencatan senjata kembali dipertaruhkan
Serangan ke wilayah itu memunculkan pertanyaan baru tentang daya tahan kesepakatan penghentian tembak-menembak yang masih berjalan. Situasi keamanan di Lebanon selatan dan sekitarnya kembali dinilai rapuh, terutama karena insiden saling serang belum sepenuhnya berhenti.
Hingga laporan ini disusun, belum ada rincian resmi mengenai target yang diserang maupun dampak langsung terhadap fasilitas di lokasi tersebut. Keterbatasan informasi dari pihak berwenang membuat gambaran di lapangan masih belum sepenuhnya jelas.
Israel menyebut target terkait Hizbullah
Dalam pernyataan resminya, militer Israel mengatakan serangan diarahkan ke lokasi yang diklaim berkaitan dengan Hizbullah. Serangan ini juga terjadi hanya beberapa jam setelah dua pejabat senior Israel menyerukan aksi terhadap Dahiyeh.
Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich sebelumnya mendesak serangan udara ke kawasan pinggiran selatan Beirut. Desakan itu muncul setelah dua pesawat nirawak yang disebut berasal dari Hizbullah menyerang wilayah utara Israel.
Ketegangan di perbatasan belum mereda
Dalam beberapa bulan terakhir, perbatasan Israel-Lebanon terus diwarnai operasi militer dan insiden yang saling memicu respons. Militer Israel disebut masih menjalankan operasi di Lebanon sejak 2 Maret 2026, termasuk serangan udara dan pendudukan di sejumlah wilayah selatan Lebanon.
Kondisi tersebut membuat kawasan perbatasan tetap rawan eskalasi sewaktu-waktu. Serangan ke Beirut selatan memperlihatkan bahwa ketegangan yang berlangsung selama berbulan-bulan masih jauh dari kata reda.
Dampak kemanusiaan terus membesar
Otoritas Lebanon mencatat konflik yang berlangsung sejak awal Maret telah menimbulkan kerugian kemanusiaan besar. Berdasarkan data pemerintah Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menewaskan lebih dari 3.700 orang, melukai hampir 11.500 orang, dan memaksa lebih dari 1,5 juta warga mengungsi.
Angka itu menunjukkan besarnya tekanan yang ditanggung warga sipil di Lebanon. Selain korban jiwa dan luka-luka, perpindahan penduduk dalam jumlah besar juga memperburuk akses terhadap tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerusakan akibat serangan udara di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan. Serangan terbaru ini kembali menguji gencatan senjata yang ada dan menempatkan stabilitas Lebanon pada titik yang sensitif.
