Sering ISPA Pada Anak Bisa Tahan Laju Pertumbuhan, Ini Kata Dokter

Author: Redaksi Android62

Batuk, pilek, dan demam yang datang silih berganti pada anak kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, bila infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA muncul berulang, kondisi itu dapat mengganggu proses tumbuh kembang karena tubuh anak terus-menerus bekerja keras untuk pulih.

Pada fase sakit berulang, energi dan nutrisi yang seharusnya dipakai untuk mendukung pertambahan tinggi dan berat badan justru banyak terserap untuk melawan infeksi. Akibatnya, anak bisa mengalami nafsu makan turun, tidur tidak nyenyak, dan aktivitas harian berkurang sehingga pertumbuhan tidak berlangsung optimal.

Mengapa ISPA berulang bisa mengganggu pertumbuhan

ISPA adalah infeksi pada saluran napas yang umum terjadi pada anak. Kondisi ini dapat dipicu oleh virus, bakteri, atau jamur, dan penularannya dapat terjadi lewat kontak langsung maupun tidak langsung di lingkungan yang padat, seperti rumah, sekolah, atau tempat bermain.

Saat tubuh melawan infeksi, sistem imun membutuhkan energi lebih besar untuk memperbaiki jaringan dan mengatasi peradangan. Dalam situasi seperti ini, asupan gizi yang masuk tidak sepenuhnya digunakan untuk menunjang pertumbuhan, melainkan ikut tersedot untuk proses pemulihan.

Karena itu, anak yang sering sakit berisiko mengalami hambatan pada kurva pertumbuhan. Hal ini tidak hanya berlaku pada ISPA, tetapi juga pada penyakit lain yang datang berulang, termasuk diare.

Pernyataan dokter soal kurva pertumbuhan anak

Dalam edukasi kesehatan bertajuk Waspada ISPA di Musim Pancaroba: Jaga Kesehatan Pernapasan Keluarga, dr. Clavelina Astriani, senior Medical Affairs Manager M10 PT. Combiphar, menegaskan bahwa anak yang sering sakit dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Ia menekankan bahwa frekuensi sakit menjadi hal yang perlu diwaspadai, bukan hanya jenis penyakitnya.

“Anaknya sakit apapun, mau ISPA, diare, dan lainnya, kalau sering sakit, kurva pertumbuhan dia akan terhambat,” ujar dr. Clavelina di Jakarta. Penjelasan itu sejalan dengan pemahaman medis bahwa pertumbuhan anak dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi, kualitas istirahat, dan kondisi kesehatan secara umum.

Tanda yang perlu dicermati orang tua

Orang tua perlu lebih waspada bila infeksi datang berulang dalam waktu berdekatan dan mulai memengaruhi kondisi fisik anak. Beberapa sinyal berikut dapat menjadi perhatian:

  1. Batuk, pilek, atau demam sering kambuh.
  2. Anak tampak mudah lelah dan kurang aktif.
  3. Nafsu makan menurun dalam waktu yang cukup lama.
  4. Berat badan sulit naik sesuai usia.
  5. Anak lebih sering absen dari aktivitas harian karena sakit.

Jika tanda-tanda tersebut terus muncul, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab yang mendasari. Kondisi seperti alergi, paparan infeksi terus-menerus, atau asupan gizi yang kurang dapat memperburuk keadaan anak.

Langkah pencegahan yang bisa dilakukan di rumah

Pencegahan menjadi langkah utama agar anak tidak mudah sakit dan tumbuh kembang tetap berjalan baik. Upaya sederhana di rumah dapat membantu menekan risiko infeksi dan menjaga daya tahan tubuh anak tetap mendukung aktivitas hariannya.

Langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Mengajarkan anak mencuci tangan secara rutin.
  2. Menjaga kebersihan mainan, alat makan, dan area rumah.
  3. Memberikan makanan bergizi seimbang sesuai usia.
  4. Memastikan anak cukup tidur dan tidak kelelahan.
  5. Membatasi kontak dengan orang yang sedang sakit bila memungkinkan.
  6. Memantau berat dan tinggi badan secara berkala.

Gizi dan istirahat tetap memegang peran penting dalam pemulihan anak yang sering terkena ISPA. Saat tidur cukup dan asupan makanan terjaga, tubuh memiliki kesempatan lebih baik untuk melawan infeksi dan mendukung pertumbuhan sesuai tahap usia.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru