Shekel Makin Kuat, Pound Terancam Tembus Di Bawah NIS 4

Pound sterling kembali berada di bawah tekanan di pasar terhadap shekel Israel, dan tanda pelemahannya kini makin jelas. Bank of Israel pada Senin (27/4/2026) menetapkan kurs resmi turun 0,151 persen menjadi NIS 4,0383 per pound sterling, level terendah sejak 2022.

Pergerakan itu menegaskan betapa kuatnya shekel dalam setahun terakhir. Dalam periode tersebut, mata uang Israel itu telah menguat 18 persen terhadap sterling, sementara dolar AS juga sempat jatuh di bawah NIS 3 untuk pertama kalinya sejak 1995.

Shekel semakin kokoh di tengah perubahan besar

Lonjakan shekel bukan dipandang sebagai gerakan sesaat. Harel Insurance Investments and Financial Services menilai penguatan mata uang Israel berkaitan dengan perubahan besar dalam ekonomi negaranya, termasuk transformasi Israel menjadi pusat teknologi tinggi dan pengelolaan ekonomi yang dianggap lebih bertanggung jawab.

Lembaga itu bahkan melihat shekel kini termasuk salah satu mata uang terkuat di dunia. Jika tren ini berlanjut, sterling berpotensi segera diperdagangkan di bawah NIS 4/£.

Harel juga mengingatkan betapa jauh perbedaan kondisi saat ini dibanding awal 2000-an. Pada periode itu, pound sempat menembus lebih dari NIS 8/£ ketika shekel berada dalam posisi lemah.

Dampaknya tidak sama untuk semua pelaku pasar

Di sisi perdagangan, penguatan shekel terhadap pound tidak dinilai mengganggu seluruh struktur dagang Israel. Dror Zakash, Direktur Konsultasi Forex First International Bank, menyebut porsi terbesar perdagangan Israel tetap berlangsung dalam dolar AS dan euro.

Meski begitu, eksportir yang menjual ke Inggris tetap merasakan dampaknya. Pelemahan sterling membuat hasil penjualan ke pasar itu menjadi kurang menguntungkan bagi pelaku usaha Israel.

Bank of Israel mencatat cadangan devisa negara berada di sekitar 230 miliar dolar AS. Sekitar 5 persen dari jumlah itu disimpan dalam bentuk pound sterling, dengan nilai setara kira-kira NIS 40 miliar pada akhir tahun 2025.

Sterling masih dibayangi masalah di Inggris

Tekanan terhadap pound juga datang dari kondisi domestik Inggris. Motti Azoulay, Kepala Meja Valuta Asing dan Derivatif Migdal, menyoroti kekhawatiran atas stabilitas keuangan sebagai salah satu faktor utama yang menekan mata uang tersebut.

Azoulay mengatakan pound memang sudah pulih di pasar global, tetapi posisinya masih berada pada level historis yang rendah. Ia juga menilai pertumbuhan ekonomi Inggris yang rendah ikut melemahkan sentimen investor.

Dalam pandangannya, inflasi Inggris naik menjadi 3,3 persen dan tingkat pengangguran bergerak ke 5 persen atau lebih. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di Inggris tahun ini dan pada awal 2027, dengan lebih dari dua kali kenaikan suku bunga.

Jika tekanan terus berlanjut dan kurs representatif turun di bawah NIS 3,7567 per pound sterling, mata uang Inggris itu akan mencatat level terendah sejak awal dekade 1990-an terhadap shekel. Bagi pasar valuta asing, ambang ini akan menjadi penanda baru kuatnya shekel di tengah perubahan besar lanskap mata uang global.

Berita Terkait