Telkom Menguji Budaya lewat Penghargaan, Strategi Dinilai Tak Akan Cukup

Telkom menempatkan penerapan budaya kerja sebagai ukuran penting dalam transformasi bisnisnya, bukan sekadar pelengkap strategi korporasi. Penilaian itu terlihat dari pemberian penghargaan kepada unit-unit TelkomGroup yang dinilai konsisten menjalankan nilai perusahaan.

Penghargaan Best Corporate Culture Implementation diberikan setelah proses Culture Assessment terhadap implementasi budaya di lingkungan kerja. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa budaya dinilai dari praktik sehari-hari, termasuk cara bekerja dan membangun kolaborasi.

Unit yang menerima penghargaan

Sejumlah unit kerja memperoleh predikat Best Corporate Culture Implementation berdasarkan evaluasi penerapan budaya perusahaan. Daftar penerimanya mencakup unit regional, bisnis, layanan, hingga entitas internasional TelkomGroup.

Unit kerjaPenghargaan
Witel SuramaduBest Corporate Culture Implementation
Telkom Regional 2Best Corporate Culture Implementation
Enterprise Business StrategyBest Corporate Culture Implementation
Divisi Wholesale ServiceBest Corporate Culture Implementation
PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin)Best Corporate Culture Implementation

Selain penghargaan untuk unit kerja, Telkom juga memberikan apresiasi Best Culture Agent/Culture Booster. Apresiasi itu ditujukan kepada para penggerak budaya yang menunjukkan konsistensi sepanjang 2025.

Culture Agent dan Culture Booster diposisikan sebagai pihak yang membantu nilai perusahaan hadir di masing-masing unit kerja. Peran mereka dipandang penting untuk menjaga organisasi tetap adaptif ketika dinamika bisnis berubah cepat.

Budaya sebagai penentu pelaksanaan strategi

Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan, menilai strategi bisnis tidak akan cukup bila tidak didukung budaya organisasi yang kuat. Menurutnya, strategi harus diterjemahkan menjadi perilaku yang berlangsung secara konsisten dalam aktivitas kerja.

“Strategy sehebat apa pun akan runtuh jika budaya organisasinya tidak mendukung. Culture eats strategy for breakfast, karena strategi hanya akan menjadi rencana di atas kertas apabila tidak diwujudkan melalui perilaku sehari-hari,” tegas Willy Saelan.

Pandangan tersebut menjadi dasar penekanan Telkom terhadap Budaya Transformasi Telkom. Nilai perusahaan diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman teoretis, melainkan menjadi acuan dalam mengambil peran dan menyelesaikan pekerjaan.

Pesan tentang penguatan budaya ini mengemuka dalam Telkom Culture Festival 2026. Puncak kegiatan digelar melalui agenda Culture Agent/Culture Booster Meet & Greet pada Selasa, 21 Juli.

Menjaga nilai tetap relevan

Agenda tersebut mengusung tema “Unshaken: Keeping Culture Relatable When Everything Shifts”. Forum itu mempertemukan senior leaders, Culture Agent, dan Culture Booster dari beragam unit kerja TelkomGroup.

Telkom menjadikan pertemuan itu sebagai ruang berbagi pengalaman penerapan nilai perusahaan. Kegiatan ini juga digunakan untuk memperkuat hubungan para penggerak budaya di berbagai bagian organisasi.

Mindfulness Practitioner Adjie Santosoputro turut menekankan pentingnya ketangguhan diri saat menghadapi perubahan yang tidak dapat dihindari. Ketangguhan individu dinilai relevan ketika organisasi dituntut cepat menyesuaikan diri dengan perubahan.

Founder ChoSSI Choky Sitohang menyoroti pentingnya rasa saling menghargai dalam membentuk kerja sama tim. “Perubahan akan lebih mudah dijalani ketika kita saling mendukung dan tumbuh bersama sebagai satu tim,” ujar Choky.

Menurut mediaindonesia.com, pengakuan terhadap unit kerja diberikan kepada pihak yang dinilai konsisten menjalankan implementasi budaya perusahaan. Melalui Culture Festival 2026, Telkom mendorong budaya agar semakin tampak dalam aktivitas kerja dan kolaborasi lintas unit.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait