Kehadiran PT Simone Batang Indonesia di KEK Industropolis Batang langsung menambah bobot kawasan itu di mata investor global. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut menyiapkan investasi Rp 429 miliar untuk membangun basis produksi barang berbahan kulit yang diarahkan ke pasar ekspor.
Proyek ini juga membawa efek ketenagakerjaan yang besar. Pabrik baru itu diproyeksikan menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja secara bertahap saat pembangunan dan operasional berjalan.
Di atas lahan seluas 8,28 hektare, Simone akan membangun fasilitas produksi baru di dalam kawasan tersebut. Pembangunan fisik dijadwalkan mulai dalam dua bulan ke depan, dengan target penyelesaian konstruksi pada Juli 2026.
Setelah konstruksi rampung, operasional pabrik akan dimulai secara bertahap pada Juli 2027. Tahapan ini menunjukkan bahwa investasi yang masuk tidak hanya menyasar pembangunan fasilitas, tetapi juga kesiapan produksi jangka panjang.
Masuknya Simone mempertegas posisi KEK Industropolis Batang sebagai lokasi strategis untuk ekspansi industri berorientasi ekspor. Kawasan ini semakin dipandang sebagai bagian penting dalam rantai pasok global seiring hadirnya perusahaan internasional yang memilih Batang sebagai basis produksi.
Direktur Pemasaran & Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menilai investasi terbaru ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap potensi Indonesia. Pandangan itu sejalan dengan berkembangnya minat perusahaan asing terhadap kawasan industri tersebut.
Dari sisi perusahaan, Simone bukan pemain baru di industri kulit dunia. Perusahaan ini berdiri sejak 1987 dan telah memiliki operasional di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Kamboja.
Skala bisnis induknya juga tergolong besar. Perusahaan tersebut menguasai sekitar 10 persen pangsa pasar dunia, sementara di pasar Amerika Serikat porsinya mencapai 30 persen dengan nilai ritel melampaui 7 miliar dollar AS.
Direktur Utama PT Simone Batang Indonesia, Kim Jung Shik, menegaskan bahwa Indonesia dipandang sebagai lokasi yang sangat strategis untuk ekspansi jangka panjang perusahaan. Ia menilai KEK Industropolis Batang menawarkan dukungan kebijakan, kesiapan kawasan, dan potensi tenaga kerja.
Menurut Kim, Indonesia menjadi salah satu basis produksi masa depan di Asia. Ia juga menyebut KEK Industropolis Batang memberi keunggulan yang dibutuhkan perusahaan untuk memperkuat rencana bisnisnya.
Dengan investasi Rp 429 miliar, lahan 8,28 hektare, dan proyeksi penyerapan 6.000 tenaga kerja, proyek ini menambah lapisan penting dalam ekosistem industri Batang. Kehadiran Simone sekaligus menegaskan bahwa kawasan tersebut terus berkembang sebagai pusat manufaktur berbasis ekspor.
