SiPA Tembus Ratusan Miliar per Hari, Tiga Bank Syariah Kian Rapatkan Likuiditas

Author: Redaksi Android62

Instrumen berbasis agunan di pasar uang syariah terus menunjukkan penguatan, dan SiPA menjadi salah satu yang paling menonjol dalam perkembangan itu. Data otoritas moneter mencatat transaksi instrumen secured, termasuk SiPA, naik dari nol pada 2020 menjadi 34 persen pada 2024, dengan perdagangan harian rata-rata mencapai Rp800 miliar.

Tren tersebut ikut menguat setelah tiga bank syariah, yaitu Bank Aladin Syariah, Bank Syariah Nasional (BSN), dan BCA Syariah, resmi memperluas kerja sama melalui penggunaan Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank atau SiPA. Skema ini dirancang untuk membuat transaksi antarbank berjalan lebih efisien, aman, dan tetap sesuai prinsip syariah.

Likuiditas lebih tertata lewat agunan syariah

Dalam mekanisme SiPA, transaksi didukung aset seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan Sukuk Bank Indonesia (SukBI) sebagai dasar penjaminan. Pendekatan ini membuat risiko lebih terukur sekaligus memberi kepastian yang lebih baik bagi para pelaku industri.

Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Tjatur Rachmadi, menyampaikan bahwa SiPA disiapkan untuk menjaga operasional perbankan tetap sejalan dengan prinsip syariah. Ia menilai kehadiran instrumen ini membantu menciptakan kejelasan bagi lawan transaksi atau counterparty.

Koko juga menyebut potensi transaksi dari tiga bank tersebut hampir mencapai Rp1 triliun. Menurut dia, besaran itu menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan pasar uang syariah masih terbuka lebar jika kolaborasi antarbank terus diperkuat.

Menambah pilihan dan mempererat industri

Dari sisi BSN, kehadiran SiPA dipandang sebagai tambahan penting dalam pilihan instrumen pasar keuangan syariah. Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menilai kerja sama ini bukan hanya soal transaksi, tetapi juga jembatan yang mempererat hubungan fungsional antarbank syariah.

Alex juga menyoroti tingkat penetrasi perbankan syariah di Indonesia yang masih berada di kisaran 7 persen. Angka itu masih jauh di bawah Malaysia yang telah mencapai 43 persen, sehingga peluang ekspansi di dalam negeri dinilai masih sangat besar.

Dengan kondisi tersebut, peningkatan pangsa pasar menjadi agenda yang terus dikejar industri. Kolaborasi antara Bank Aladin Syariah, BSN, dan BCA Syariah pun dipandang selaras dengan kebutuhan untuk memperluas basis transaksi dan memperdalam pasar.

Tata kelola jadi penopang ekspansi

Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, memandang kemitraan ini sebagai bagian dari penguatan struktur industri perbankan secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa tata kelola yang baik harus menjadi dasar agar perluasan kapasitas transaksi pasar uang berlangsung sehat dan berkelanjutan.

Yuli menilai kerja sama transaksi SiPA dengan Bank Aladin Syariah membuka ruang pemanfaatan instrumen pasar uang syariah secara kolaboratif. Dalam pandangannya, pendekatan tersebut tetap menjaga prinsip kehati-hatian saat bank syariah memperbesar aktivitas transaksinya.

Minat pada instrumen secured terus meningkat

Peningkatan porsi transaksi berbasis agunan menjadi sinyal bahwa pasar mulai lebih menerima instrumen secured sebagai bagian penting dalam pengelolaan likuiditas. Aktivitas harian yang sudah berada di rata-rata Rp800 miliar menunjukkan instrumen ini bukan lagi pelengkap, melainkan mulai mendapat tempat dalam praktik pasar.

Arah pertumbuhan itu juga tercermin dari proyeksi bahwa porsi transaksi instrumen secured berpotensi menembus 40 persen dari total transaksi Pasar Uang Antarbank Syariah pada 2025. Pergerakan tersebut menandakan pendalaman pasar uang syariah kini tidak hanya bergantung pada inovasi produk, tetapi juga pada kepercayaan, efisiensi, dan konektivitas antarbank syariah.

Berita Terbaru