Sirene Kembali Terdengar Saat Ibu Kyiv Mengantar Dua Putrinya ke Peristirahatan Terakhir

Sirene serangan udara kembali terdengar di Kyiv saat keluarga Tetiana Yakovlieva sedang menjalani momen paling menyakitkan dalam hidup mereka: pemakaman dua putrinya, Vira yang berusia 12 tahun dan Liubava yang berusia 17 tahun. Di bawah kubah emas Gereja Santo Mikael, suasana duka yang pekat itu bercampur dengan bunyi peringatan perang yang seolah tidak memberi jeda bagi para pelayat.

Kedua saudari itu tewas dalam serangan dini hari yang menghantam ibu kota Ukraina dan termasuk dalam dua lusin korban jiwa. Serangan tersebut disebut sebagai yang paling mematikan di Kyiv sepanjang tahun ini, ketika Rusia meluncurkan 675 drone tempur dan 56 rudal.

Di antara para pelayat, Yakovlieva berdiri pucat dan tampak bergoyang pelan di depan dua peti jenazah tertutup. Misa berlangsung dengan doa, tangis, bunga, dan pelukan diam, sementara orang-orang berusaha bertahan di tengah duka yang masih sangat baru.

Imam yang memimpin upacara mengatakan tidak ada kata-kata penghiburan yang cukup untuk orang tua yang harus menguburkan anak mereka sendiri. Ia menilai tragedi itu bukan hanya kehilangan keluarga Yakovlieva, tetapi juga duka yang dirasakan seluruh Ukraina.

Bagi Yakovlieva, kehilangan ini datang setelah rentetan harapan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan. Saat rumah mereka hancur dan tertutup debu beton, ia sempat berharap kedua putrinya masih hidup di bawah puing-puing, atau setidaknya telah meninggal dan menyusul ayah mereka yang lebih dulu gugur saat berperang melawan invasi Rusia.

Di lokasi serangan, petugas darurat mengangkat korban tewas dan luka-luka dengan tandu. Warga, termasuk teman sekelas kedua saudari itu, juga mencoba mengenali siapa saja yang menjadi korban di antara reruntuhan.

Menteri Dalam Negeri Igor Klymenko mengatakan kemungkinan besar sebuah rudal jelajah Kh-101 Rusia meledak di lantai dasar rumah keluarga itu. Ledakan tersebut diduga meruntuhkan fondasi bangunan hingga satu lantai jatuh menimpa lantai lainnya.

Seorang analis pertahanan Ukraina menyebut setiap proyektil semacam itu bernilai sekitar 1,2 juta dolar AS. Nilai itu menggambarkan daya hancur serangan yang justru menimpa permukiman warga sipil, bukan area yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Duka yang dirasakan banyak warga

Kesedihan keluarga Yakovlieva juga tercermin dari para pelayat yang datang memberi penghormatan terakhir. Natalia, salah satu perempuan yang hadir, mengatakan sulit menemukan kata-kata ketika anak-anak terbunuh, apalagi saat mereka sedang tidur.

Ia menyebut serangan itu sebagai kebiadaban dan mengatakan putranya juga tewas bersama ayah kedua gadis itu. Di sisi lain, Olga mengenang bahwa ia pernah mengajari putri bungsu Yakovlieva menggambar, dan menyebut Vira serta Liubava sebagai anak-anak yang berbakat dan supel.

Olga juga mengatakan kepergian dua saudari itu meninggalkan “rasa sakit yang tak terucap”. Bagi banyak orang yang hadir di gereja, kisah mereka menjadi pengingat bahwa perang memutus kehidupan keluarga dalam sekejap dan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

Kecaman dari Kyiv dan bantahan Moskow

Setelah serangan itu, Presiden Volodymyr Zelensky menulis bahwa Rusia “dengan sengaja menghancurkan kehidupan”. Ia meminta sekutu meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar perang segera diakhiri.

Zelensky juga menegaskan bahwa Ukraina sedang membela Eropa dan dunia agar serangan seperti ini, yang menewaskan anak-anak, tidak meluas lebih jauh. Di sisi lain, Kremlin menyatakan pasukannya menyerang fasilitas militer Ukraina, sambil tetap membantah bahwa tentaranya menargetkan warga sipil.

Di tengah pernyataan yang saling bertentangan itu, jumlah korban sipil terus bertambah. Polisi menyebut sedikitnya 704 anak Ukraina telah terbunuh sejak invasi penuh Rusia dimulai pada Februari 2022, sementara ribuan lainnya terluka atau hilang.

Nama Vira dan Liubava kini menambah daftar panjang itu. Arti nama mereka, “iman” dan “cinta”, terasa semakin pahit di tengah rumah yang hancur dan perang yang terus meninggalkan luka baru bagi warga sipil Kyiv.

Berita Terkait