Harga solar nonsubsidi terus menjadi sorotan setelah di sejumlah SPBU swasta tembus di atas Rp30.000 per liter. Lonjakan ini paling terasa bagi pengguna kendaraan diesel dan pelaku industri yang bergantung pada BBM non-subsidi.
Di tengah kenaikan itu, pemerintah menegaskan bahwa BBM bersubsidi tidak ikut naik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa bensin, solar, dan LPG bersubsidi tetap dijaga stabil, sementara penyesuaian harga hanya menyasar BBM industri atau produk yang dinilai untuk masyarakat mampu.
Tekanan paling berat ada di segmen diesel
Di jaringan SPBU Vivo Energy Indonesia, Diesel Primus tercatat berada di harga Rp30.890 per liter. Pada pembaruan harga per 1 Mei 2026, Revvo 92 berada di level Rp12.390 per liter.
Kondisi serupa terlihat di SPBU milik BP. BP Ultimate Diesel dipatok Rp30.890 per liter, sedangkan BP 92 berada di harga Rp12.390 per liter.
Selisih harga yang lebar antara produk diesel premium dan bensin reguler memperlihatkan bahwa beban kenaikan paling besar berada pada pengguna mesin diesel. Situasi ini membuat kelompok yang banyak memakai solar non-subsidi merasakan dampak lebih cepat dibanding pengguna bensin biasa.
Pertamina ikut menyesuaikan harga non-subsidi
Penyesuaian harga juga terjadi di jaringan Pertamina. Sejumlah produk non-subsidi ikut naik seiring tekanan pasar yang masih bergerak.
Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter dari sebelumnya Rp19.400 per liter. Dexlite naik ke Rp26.000 per liter dari Rp23.600, sementara Pertamina Dex berada di Rp27.900 per liter dari sebelumnya Rp23.900.
Pergerakan harga di beberapa kanal penjualan itu menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya dirasakan pada satu merek atau satu jenis produk. Gejala yang sama muncul pada produk non-subsidi di SPBU swasta maupun milik Pertamina.
Pemerintah tetap memisahkan subsidi dan non-subsidi
Bahlil menjelaskan bahwa BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar dan mengacu pada aturan Menteri ESDM tahun 2022. Ia menegaskan kebijakan pemerintah tetap membedakan perlakuan antara BBM subsidi dan non-subsidi.
“Sekali lagi saya katakan bahwa untuk minyak subsidi baik itu bensin, solar maupun LPG tidak akan ada kenaikan,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Mei 2026. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah ingin menjaga kelompok penerima subsidi tetap terlindungi dari gejolak harga pasar.
Sementara itu, penyesuaian pada produk non-subsidi diarahkan pada segmen yang dinilai memiliki kemampuan bayar lebih besar. Dengan begitu, beban harga yang naik tidak dibebankan merata ke seluruh konsumen.
Geopolitik global masih mempengaruhi pasar energi
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaiman menyebut lonjakan harga tidak lepas dari kondisi geopolitik global yang masih berfluktuasi. Ia menggambarkan pasar energi saat ini sebagai situasi yang naik turun dan belum stabil.
Laode menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah keamanan stok energi. “Yang paling penting buat kita itu saat ini menjaga stok aja aman,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian itu, tekanan pada solar nonsubsidi menjadi penanda bahwa industri dan konsumen non-subsidi masih menanggung dampak terbesar. Pemerintah, di sisi lain, tetap berupaya menjaga harga BBM subsidi agar tidak ikut terbebani oleh gejolak pasar minyak global.
Source: www.viva.co.id