Graeme Souness melontarkan penilaian tajam terhadap Declan Rice dengan menyebut pemain Arsenal itu lebih cocok beroperasi sebagai bek tengah. Mantan gelandang Liverpool tersebut menilai Rice memiliki batas dalam menjalankan tugas sebagai pengatur permainan.
Kritik itu menyoroti perbedaan antara kemampuan atletik Rice dan tuntutan teknis seorang gelandang tengah elite. Souness tidak meragukan tenaga, sikap, maupun komitmen pemain Inggris berusia 27 tahun tersebut.
“Tidak ada yang perlu dikritik dari sikapnya terhadap permainan dan kemampuan atletiknya,” kata Souness. Namun, ia memandang kualitas itu belum cukup untuk menjadikan Rice gelandang kelas dunia.
Menurut Souness, masalah utama Rice terlihat ketika membawa bola terlalu lama sebelum menentukan pilihan. Ia menilai gelandang ideal harus mampu mengenali situasi lebih cepat dan segera memainkan umpan yang tepat.
Dalam pandangannya, seorang pemain tidak seharusnya terus membawa bola hingga sekitar 20 yard lalu dihentikan lawan sebelum mengoper ke samping. Kebiasaan tersebut dianggap menunjukkan keterbatasan dalam membaca opsi permainan.
Rodri Dijadikan Standar Pembanding
Souness kemudian memakai Rodri sebagai gambaran gelandang tengah yang mampu mengontrol pertandingan. Ia merujuk pada penampilan pemain Spanyol itu saat timnya mengalahkan Perancis.
Spanyol disebut sudah unggul satu gol, tetapi Rodri tetap dapat menentukan tempo permainan. Bagi Souness, kemampuan menjaga kendali seperti itu menjadi ciri penting pemain tengah terbaik.
“Jika Anda menginginkan kebalikannya, malam sebelumnya ketika Spanyol mengalahkan Perancis kita melihat pemain terbaik di dunia, Rodri,” ujar Souness. “Mereka unggul satu gol dan dia masih mampu mengendalikan permainan.”
Perbandingan tersebut mempertegas penilaian Souness terhadap Rice. Ia menganggap kekuatan fisik dan kemampuan berlari sambil membawa bola bukan penentu utama kualitas seorang pengatur permainan.
“Bagi saya, Rice memiliki keterbatasan,” kata Souness. Ia menambahkan bahwa pembicaraan mengenai Rice sebagai pemain kelas dunia belum sesuai dengan penilaiannya.
Anderson Masih Dinilai Punya Ruang Tumbuh
Dalam pembahasan di program Sports Uncensored bersama Piers Morgan, Souness juga menyinggung Elliott Anderson. Menurut laporan ESPN UK yang dikutip bola.kompas.com, Souness membedakan prospek Anderson dengan Rice.
Anderson yang berusia 22 tahun dinilai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan permainannya. Sementara itu, Souness berpendapat Rice telah mencapai titik tertinggi kemampuannya.
“Salah satunya masih sangat muda, 22 tahun, jadi punya peluang untuk berkembang,” kata Souness mengenai Anderson. Ia lalu menyatakan, “Declan tidak akan berkembang lebih jauh, dia sudah mencapai batas kemampuannya di usia 27 tahun.”
Souness juga menilai Rice dan Anderson belum cukup menunjukkan kemampuan menciptakan ancaman dari lini tengah. Ia melihat keduanya lebih banyak mengedarkan bola tanpa benar-benar melukai pertahanan lawan.
“Saya tidak melihat cukup banyak permainan sepak bola dalam diri mereka, saya melihat mereka sebagai pemain yang hanya mengoper bola,” ucapnya. “Saya tidak melihat mereka mampu melukai lawan.”
Kritik Muncul Saat Rice Tetap Memegang Peran Penting
Penilaian itu muncul ketika Rice masih menjadi salah satu figur utama lini tengah Inggris pada Piala Dunia 2026. Inggris gagal mencapai final setelah kalah dari Argentina di semifinal.
Rice ditarik keluar pada menit ke-82 dalam laga tersebut. Gol Anthony Gordon yang sempat memberi keunggulan Inggris kemudian dibalas oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Kritik Souness juga hadir setelah Rice membantu Arsenal merebut gelar Liga Premier pertama dalam 22 tahun. Meski demikian, ia tetap memandang posisi lebih dalam di pertahanan dapat lebih cocok dengan karakter permainan Rice.
Pernyataan itu menempatkan peran Rice sebagai bahan perdebatan, terutama karena kontribusinya tetap penting bagi klub dan tim nasional. Souness, bagaimanapun, melihat kebutuhan lini tengah Inggris melampaui daya jelajah dan intensitas fisik semata.
Source: bola.kompas.com






