Spanyol merebut gelar Piala Dunia keduanya setelah menang 1-0 atas Argentina melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 di New Jersey. Gol pada masa tambahan waktu itu mengakhiri final ketat yang juga memunculkan perbincangan tentang Gaza di luar lapangan.
Torres menyambar bola di depan gawang Emiliano Martínez ketika Argentina bertahan setelah tekanan panjang dari Spanyol. Kemenangan tersebut menambah trofi dunia Spanyol setelah gelar pertama mereka pada 2010.
Dominasi yang Berujung Gol Penentu
Spanyol mengendalikan sekitar 65 persen penguasaan bola dan menciptakan 20 tembakan sepanjang pertandingan. Argentina hanya mampu melepaskan dua tembakan, tetapi bertahan cukup lama sebelum kebobolan pada babak tambahan.
| Tim | Penguasaan Bola | Tembakan | Hasil |
|---|---|---|---|
| Spanyol | Sekitar 65 persen | 20 | Menang 1-0 |
| Argentina | Tidak dirinci | 2 | Kalah 0-1 |
Keunggulan Spanyol pada final meneruskan konsistensi mereka sepanjang kompetisi. Tim tersebut disebut menjalani 38 pertandingan tanpa kekalahan dan hanya kemasukan satu gol selama turnamen.
Catatan itu menunjukkan bahwa kemenangan tidak lahir dari satu serangan semata. Spanyol membangun hasilnya melalui penguasaan permainan dan pertahanan yang stabil sejak fase sebelumnya.
Dua Generasi di Panggung Terbesar
Final ini juga mempertemukan Lionel Messi dan Lamine Yamal dalam dua fase karier yang sangat berbeda. Messi menjalani Piala Dunia pada usia 39 tahun, sedangkan Yamal yang berusia 19 tahun tampil pada turnamen terbesar pertamanya.
Pertemuan keduanya memiliki latar cerita yang tidak biasa. Pada 2007, fotografer Joan Monfort memotret Messi yang ketika itu berusia 20 tahun bersama seorang bayi dalam sesi kalender amal Sport dan UNICEF.
Bayi yang dimandikan Messi dalam bak plastik tersebut kemudian dikenal sebagai Yamal. Keluarga Yamal terpilih melalui undian untuk mengikuti pemotretan amal itu tanpa mengetahui keduanya kelak bertemu pada final Piala Dunia.
Sejumlah kebetulan ikut menyertai pertemuan itu. Yamal berusia 19 tahun pada 13 Juli, final digelar pada 19 Juli waktu Amerika, dan ia mengenakan nomor 19 yang juga pernah dipakai Messi pada Piala Dunia 2006.
Yamal tumbuh di Rocafonda, kawasan pekerja yang dihuni banyak keluarga migran. Ia memiliki ayah berdarah Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa, lalu berkembang menjadi sosok penting bagi Spanyol.
Perdebatan Politik di Luar Stadion
Hasil final turut dibaca sebagian pendukung melalui sikap politik pemerintah Spanyol dan Argentina mengenai Palestina serta perang di Gaza. Namun, pemain tidak dapat disamakan dengan kebijakan pemerintah negara mereka.
Pada 28 Mei 2024, Spanyol bersama Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui Negara Palestina. Pemerintah Spanyol menyatakan pengakuan itu ditujukan untuk mendukung perdamaian dan solusi dua negara.
Majelis Umum PBB setahun kemudian mengesahkan resolusi yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza. Resolusi tersebut memperoleh 149 suara setuju, 12 menolak, dan 19 abstain; Spanyol mendukungnya, sementara pemerintahan Argentina di bawah Javier Milei termasuk yang menolak.
Hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang pada Oktober 2023. Lebih dari 1.100 orang juga kembali terbunuh setelah gencatan senjata Oktober 2025, berdasarkan angka Kementerian Kesehatan Gaza dan lembaga internasional.
Messi bukan Javier Milei, sementara tim nasional Argentina bukan kabinet yang menetapkan kebijakan diplomasi di Buenos Aires. Messi juga menjadi Duta Persahabatan UNICEF sejak 2010 dan mendukung berbagai upaya perlindungan anak.
Di papan skor, laga di New Jersey hanya mencatatkan Spanyol 1 dan Argentina 0. Bagi banyak orang, final itu sekaligus menjadi ruang untuk menaruh harapan serta solidaritas di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza.
