Argentina mencatatkan catatan buruk dalam final Piala Dunia 2026 setelah tidak melepaskan satu pun tembakan sepanjang 90 menit pertama. Kondisi itu menggambarkan betapa kuatnya kontrol Spanyol, yang akhirnya menang lewat gol Ferran Torres pada perpanjangan waktu di MetLife Stadium, New Jersey.
Kemenangan tersebut mengantarkan Spanyol menjadi juara dunia, dengan Rodri mengangkat trofi setelah laga berakhir. Argentina, yang datang sebagai juara bertahan, baru menciptakan percobaan pertama pada menit ke-117 melalui Lionel Messi.
Tekanan Spanyol Membatasi Argentina
Spanyol mendominasi penguasaan bola dan memaksa Argentina lebih banyak bertahan selama pertandingan. Tim asuhan Spanyol itu menguasai 65 persen bola, membuat 20 tembakan, serta mencatatkan 11 tembakan tepat sasaran.
| Indikator | Spanyol | Argentina |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 65 persen | — |
| Total operan | 852 | 464 |
| Tembakan tepat sasaran | 11 | 0 selama 90 menit |
| Ekspektasi gol | 1,94 | — |
Perbedaan distribusi bola terlihat jelas dari jumlah operan kedua tim sepanjang laga. Rodri menyelesaikan 101 operan, sedangkan Pau Cubarsi mencatatkan 121 operan untuk menjaga aliran permainan Spanyol.
Argentina tetap mampu membawa pertandingan hingga perpanjangan waktu karena penampilan Emiliano Martinez. Kiper tersebut membuat 11 penyelamatan, yang disebut sebagai jumlah terbanyak bagi seorang penjaga gawang dalam final Piala Dunia.
Kartu Merah Menambah Beban Argentina
Upaya Argentina mengganggu ritme lawan justru berujung pada persoalan disiplin di lapangan. Empat pemain Argentina menerima kartu kuning, dengan Leandro Paredes dan Enzo Fernandez menjadi pemain yang paling menonjol dalam duel keras tersebut.
Fernandez menerima kartu kuning pertama karena melakukan protes kepada wasit. Ia kemudian mendapat kartu kuning kedua akibat tekel terlambat terhadap Cubarsi, sehingga Argentina harus bermain dengan 10 orang.
Situasi itu membuat Argentina semakin sulit keluar dari tekanan ketika Spanyol terus menguasai bola. Gol Ferran Torres pada masa perpanjangan waktu kemudian menjadi pembeda dalam pertandingan yang berjalan ketat tersebut.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui keunggulan lawannya seusai laga. “Mereka pantas meraih kemenangan, itulah kenyataannya,” kata Scaloni dalam konferensi pers, sambil menyinggung dampak kartu merah Fernandez.
Keributan Setelah Peluit Akhir
Ketegangan berlanjut setelah pertandingan berakhir ketika Paredes terlibat keributan dengan Rodri, Gavi, dan Borja Iglesias. Nahuel Molina juga terlihat melayangkan pukulan ke arah pemain Spanyol yang melintas.
Mantan kapten Inggris Wayne Rooney mengecam insiden tersebut dengan menyebutnya memalukan. Mantan kiper Inggris Joe Hart turut mengkritik perilaku Argentina dan menilainya tidak dapat dibenarkan.
Menurut laporan Kompas.com, kemenangan ini memperpanjang pencapaian besar Timnas Spanyol di sepak bola internasional. Spanyol kini memegang status juara Piala Dunia, Piala Eropa, dan Olimpiade.
Tim putra Spanyol juga memperpanjang rangkaian tak terkalahkan menjadi 38 pertandingan di seluruh kompetisi. Catatan itu disebut sebagai rekor tak terkalahkan terpanjang yang pernah dibuat tim Eropa.
Keberhasilan Spanyol juga ditopang pertahanan yang sangat rapat sepanjang turnamen. Unai Simon membukukan tujuh nirbobol dalam delapan laga, meraih Sarung Tangan Emas, sementara Spanyol hanya kebobolan satu gol selama Piala Dunia 2026.
Cubarsi, yang berusia 19 tahun, dinobatkan sebagai pemain muda terbaik turnamen. Lamine Yamal turut mencatat sejarah sebagai pemain termuda ketiga yang tampil dan menjadi pemenang final Piala Dunia, menandai kuatnya generasi baru Spanyol.
Source: www.kompas.com






