Spanyol Tak Mau Korbankan Struktur Tim demi Menempel Messi di Final Piala Dunia 2026

Author: Redaksi Android62

Spanyol memilih membatasi Lionel Messi melalui disiplin seluruh tim, bukan dengan satu pemain pengawal khusus, saat menghadapi Argentina pada final Piala Dunia 2026. Pelatih Luis de la Fuente menilai pendekatan itu penting agar struktur permainan timnya tidak runtuh ketika pertandingan berubah.

Keputusan tersebut menempatkan kewaspadaan terhadap Messi sebagai tugas bersama, mulai dari membaca posisinya hingga menutup ruang yang dapat ia gunakan. Spanyol ingin meredam ancaman kapten Argentina tanpa membebani satu pemain sepanjang laga.

Pengawalan Ketat Tanpa Duel Satu Lawan Satu

De la Fuente menegaskan Spanyol tetap akan memberi perhatian besar kepada Messi, yang pada usia 39 tahun masih dipandang mampu menentukan hasil pertandingan. Namun, perhatian itu tidak akan diterapkan dalam bentuk penjagaan man-to-man selama 90 menit.

“Apa artinya ini? Bahwa kami akan menjaganya satu lawan satu? Tidak. Tapi bahwa kami akan mengawasinya dengan sangat ketat? Ya,” kata De la Fuente. Strategi tersebut mengharuskan para pemain Spanyol menjaga jarak antarlini dan segera merespons pergerakan Messi.

Pendekatan kolektif memungkinkan Spanyol tetap mempertahankan bentuk bertahan mereka ketika Argentina membangun serangan. Tanggung jawab tidak hanya berada pada pemain yang paling dekat dengan Messi, melainkan pada seluruh unit di lapangan.

Bagi De la Fuente, Argentina juga harus dihadapi sebagai satu kesatuan, bukan hanya melalui fokus pada satu duel individual. Kehadiran Messi memang menjadi perhatian utama, tetapi keseimbangan organisasi Spanyol tetap menjadi dasar rencana pertandingan.

Pelajaran dari Laga Melawan Barcelona

Pandangan itu terbentuk dari pengalaman lama De la Fuente ketika menangani tim muda Sevilla dalam pertandingan Piala Spanyol melawan Barcelona. Kala itu, timnya mampu menjaga skor tetap 0-0 hingga menit ke-70 dengan menugaskan seorang pemain mengawal Messi secara ketat.

De la Fuente mengatakan ia sudah mendengar banyak cerita mengenai Messi yang ketika itu masih muda sebelum laga dimulai. “Jelas kami menempatkannya di bawah pengawalan man-to-man sejak awal. Dan pada menit ke-70, skornya 0-0,” ujarnya.

Situasi kemudian berubah setelah pemain yang mendapat tugas tersebut menerima kartu dan ditarik keluar. Dalam 15 menit berikutnya, Messi disebut mencetak empat gol dan mengubah jalannya pertandingan.

Pengalaman itu memperlihatkan risiko dari ketergantungan pada satu penjaga khusus. Ketika penjaga itu tidak lagi berada di lapangan, susunan bertahan dapat kehilangan titik tumpunya dan memberi lawan celah lebih besar.

Menurut laporan Suara.com, De la Fuente memandang kewaspadaan kolektif lebih sesuai untuk menjaga organisasi permainan Spanyol. Pilihan itu juga memberi timnya fleksibilitas untuk merespons perubahan situasi tanpa meninggalkan prinsip permainan mereka.

Yamal Diharapkan Menyerang dengan Identitas Sendiri

Di sisi lain, Lamine Yamal diperkirakan menjadi salah satu andalan Spanyol dalam membongkar pertahanan Argentina. Pemain Barcelona berusia 19 tahun itu kerap dibandingkan dengan Messi, tetapi De la Fuente meminta agar perbandingan tersebut tidak menjadi tekanan baginya.

“Messi adalah satu-satunya. Dia adalah talenta yang luar biasa dan, yang terpenting, contoh bagi atlet yang lebih muda,” tegas De la Fuente. Ia menilai Messi memiliki tempat tersendiri dalam sepak bola.

Pelatih Spanyol itu meminta Yamal membangun jalannya sendiri sebagai pemain. “Tetapi Lamine harus menjadi Lamine,” katanya.

Kondisi Yamal juga disebut tidak mengkhawatirkan menjelang pertandingan. Ia sempat absen dari latihan sebagai langkah pencegahan setelah menerima benturan keras di paha akibat pelanggaran di kotak penalti pada semifinal melawan Prancis.

Yamal telah kembali berlatih bersama rekan-rekannya seperti biasa. Kesiapannya memberi Spanyol opsi menyerang tambahan dalam pertandingan yang akan menguji keberanian menyerang sekaligus ketelitian bertahan.

Spanyol memburu gelar Piala Dunia pertama sejak edisi 2010 di Afrika Selatan, sedangkan Argentina mengejar catatan mempertahankan trofi secara beruntun. Dalam laga tersebut, keberhasilan menjaga kolektivitas saat Messi mencari ruang dapat menjadi salah satu faktor penentu.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru