6 Saham Pilihan Saat IHSG Menguat Terbatas, Target ADRO hingga ISAT

Author: Redaksi Android62

IHSG diperkirakan masih memiliki peluang menguat terbatas pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, setelah melonjak 1,10 persen ke level 6.176 pada Jumat pekan sebelumnya. Enam saham energi dan telekomunikasi masuk radar investor dengan target harga yang membentang dari Rp 625 hingga Rp 24.950.

Perhatian terbesar tertuju pada tiga saham telekomunikasi yang memiliki katalis korporasi dan operasional berbeda. Di sisi lain, ADRO, ESSA, dan ITMG menjadi pilihan sektor energi ketika harga komoditas global masih menjadi sentimen pasar.

Saham Rekomendasi Target Harga
ADRO Cermati Rp 2.550-Rp 2.600
ESSA Cermati Rp 625-Rp 645
ITMG Cermati Rp 24.500-Rp 24.950
TLKM Beli Rp 3.950
EXCL Beli Rp 3.600
ISAT Tambah Rp 2.540

1. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memasukkan ADRO sebagai saham yang layak dicermati dengan target Rp 2.550 hingga Rp 2.600. Pergerakan emiten ini berkaitan erat dengan dinamika harga energi dunia yang sedang dipantau pasar.

Arah harga komoditas dapat memengaruhi persepsi investor terhadap prospek saham energi. Karena itu, perubahan sentimen global menjadi faktor penting bagi pergerakan ADRO.

2. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)

ESSA memperoleh target harga Rp 625 sampai Rp 645 dalam rekomendasi Herditya. Saham ini berada dalam kelompok emiten energi yang dapat dipantau pada awal pekan.

Pasar juga menantikan laporan keuangan semester I-2026 dari sejumlah emiten. Kinerja yang diumumkan pada musim pelaporan tersebut dapat memberi tambahan arah bagi minat terhadap ESSA.

3. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

ITMG menjadi pilihan energi berikutnya dengan target harga Rp 24.500 hingga Rp 24.950. Rentang tersebut merupakan target paling tinggi secara nominal di antara enam saham yang direkomendasikan.

Money.kompas.com melaporkan pergerakan harga komoditas energi global tetap menjadi perhatian pasar. Sentimen itu relevan bagi emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor komoditas, termasuk ITMG.

4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

Equity Research Analyst PT Binaartha Sekuritas Eka Rahmawati Rahman merekomendasikan beli untuk TLKM dengan target Rp 3.950. Rekomendasi tersebut mengikuti penyelesaian target perampingan 10 anak usaha pada semester I-2026.

TLKM telah merampungkan divestasi AdMedika dan TelkoMedika pada Juni 2026. Perseroan juga mencari mitra strategis bagi bisnis pusat data, dengan pihak asing dalam daftar pendek berpotensi mengakuisisi hingga 70 persen bisnis tersebut.

Transaksi bisnis pusat data ditargetkan selesai pada akhir tahun. Restrukturisasi TLKM menjadi bagian dari komitmen mendukung restrukturisasi BUMN yang dipimpin Danantara Asset Management dan Badan Pengaturan BUMN.

5. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)

Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk EXCL dengan target Rp 3.600. Analis Etta Rusdiana Putra menilai transformasi bisnis perseroan berada pada jalur yang tepat melalui pemanfaatan tambahan spektrum.

Tambahan spektrum digunakan untuk memperluas jaringan 5G secara bertahap dari satu kota ke kota lain. Ekspansi itu dinilai dapat memperkuat daya saing EXCL di industri telekomunikasi.

Maybank Sekuritas memperkirakan rugi bersih EXCL menyempit menjadi sekitar Rp 182 miliar pada kuartal II-2026. Proyeksi tersebut didukung faktor musiman pada pendapatan dan perlambatan beban penyusutan.

Jumlah pelanggan EXCL diperkirakan sekitar 69,7 juta dengan ARPU Rp 48.000 pada kuartal II-2026. Persaingan industri telekomunikasi juga dinilai masih sehat.

6. PT Indosat Tbk (ISAT)

CGS International Sekuritas merekomendasikan tambah untuk ISAT dengan target harga Rp 2.540. Katalis utamanya berasal dari monetisasi aset fiber yang diselesaikan perseroan pada 2 Juli 2026.

ISAT menjual 84,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi kepada PT Nusantara Fiber Teknologi dan menerima dana tunai Rp 11,7 triliun. Sisa 15,1 persen saham disetorkan sebagai penyertaan non-tunai sebagai imbalan saham PT Nusantara Fiber Teknologi senilai Rp 2,1 triliun.

Research Analyst CGS International Sekuritas Bob Setiadi menilai ISAT dapat menikmati belanja modal infrastruktur yang lebih rendah dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Potensi utilisasi jaringan fiber juga dapat meningkat apabila PT Nusantara Fiber Teknologi menarik penyewa dari pihak ketiga.

Investor tetap perlu menimbang rekomendasi saham bersama riset mandiri, kondisi pasar, dan profil risiko masing-masing. Keputusan membeli maupun menjual saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.

Source: money.kompas.com
Berita Terbaru