SRBI Makin Agresif Menarik Dana, Bank Mulai Kehilangan Ruang Likuiditas

Lonjakan SRBI ke Rp957,91 triliun pada akhir April 2026 menunjukkan betapa besar peran instrumen ini dalam menjaga rupiah tetap bertahan di atas Rp17.500 per dolar AS. Namun, di balik efek penahan tekanan itu, likuiditas perbankan ikut tersedot ke instrumen Bank Indonesia yang menawarkan imbal hasil tinggi dan risiko rendah.

Daya tarik SRBI membuat dana asing masih masuk, tetapi arus itu tidak datang tanpa konsekuensi. Saat sebagian dana memilih parkir di SRBI, ruang untuk mengalir ke pasar uang, SBN, dan kredit menjadi lebih sempit.

SRBI makin dominan di strategi stabilisasi rupiah

Bank Indonesia menempatkan SRBI sebagai salah satu dari tujuh langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Instrumen ini memberi imbal hasil yang cukup menarik sehingga investor, termasuk asing, tetap punya alasan memegang aset rupiah tanpa bank sentral harus langsung menaikkan suku bunga acuan.

Hingga 30 April 2026, BI mencatat aliran dana asing ke SRBI sebesar US$3,3 miliar. Pada saat yang sama, minat pasar terhadap SBN dan saham justru menghadapi tekanan keluar, sehingga BI perlu menjaga daya saing SRBI lewat penyesuaian yield.

Imbal hasil naik, minat ikut terjaga

Posisi SRBI juga meningkat cepat dalam beberapa bulan terakhir. Dari Rp723,23 triliun pada November 2025, outstanding-nya bertambah Rp234,68 triliun hingga mendekati Rp960 triliun pada akhir April 2026.

Kenaikan imbal hasil ikut membuat instrumen ini semakin menarik bagi investor jangka pendek. Pada awal tahun, tenor 6 bulan berada di 4,80%, tenor 9 bulan di 4,85%, dan tenor 12 bulan di 4,87%, lalu naik menjadi 6,21%, 6,3%, dan 6,45% pada lelang 13 Mei 2026.

Biaya yang muncul di sisi likuiditas

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai SRBI efektif meredam gejolak dalam jangka pendek. Meski begitu, ia melihat rupiah belum menunjukkan pemulihan yang kuat walaupun arus dana ke SRBI tetap besar.

Menurut Josua, pelemahan rupiah tidak hanya soal rendahnya imbal hasil. Ia menyoroti kepercayaan pasar, risiko eksternal, harga minyak yang masih tinggi, dolar AS yang kuat, serta kekhawatiran terhadap fiskal dan defisit transaksi berjalan.

Di sisi lain, SRBI menyerap likuiditas yang sebelumnya bisa masuk ke pasar uang, SBN, atau kredit. Dana itu tidak hilang, tetapi berpindah ke instrumen BI yang lebih aman dan lebih menarik bagi investor.

Tekanan ke perbankan belum sistemik, tapi tidak merata

Josua menilai kondisi ini belum berarti likuiditas perbankan ketat secara sistemik. Uang beredar dalam arti luas pada Maret 2026 masih tumbuh 9,7% secara tahunan menjadi Rp10.355,1 triliun, sementara kredit tumbuh 8,9% dan masih relatif stabil.

Risiko yang lebih terasa adalah ketimpangan likuiditas antarbank. Bank besar dengan dana murah lebih mudah menempatkan dana di SRBI, sedangkan bank yang bergantung pada deposito mahal bisa menghadapi biaya dana lebih tinggi dan menjadi lebih berhati-hati menyalurkan kredit.

Persaingan dengan SBN dan kredit semakin ketat

Tarikan SRBI yang terlalu kuat juga membuat SBN dan kredit perbankan harus bersaing dengan instrumen BI. Jika imbal hasil SRBI terus tinggi, perbankan dan investor cenderung memilih menaruh dana di instrumen bank sentral dibanding membeli obligasi pemerintah atau menyalurkan dana ke sektor riil.

Tekanan itu terlihat dari pasar obligasi pemerintah. Kementerian Keuangan mencatat outflow tahun berjalan dari SBN mencapai Rp20 triliun sampai 24 April, meski kemudian mulai ada inflow lagi.

Pada periode yang sama, inflow ke SRBI justru tercatat Rp53,9 triliun secara year-to-date. Angka ini memperlihatkan masih besarnya dana sistem keuangan yang terserap ke instrumen moneter.

Josua mengingatkan bahwa jika penerbitan SRBI terlalu agresif dan berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa merembet ke banyak sisi. Likuiditas bank terserap, biaya dana berpotensi naik, kredit ke sektor riil bisa tertahan, dan pasar SBN harus bersaing dengan instrumen BI yang menawarkan imbal hasil tinggi.

BI tetap menahan keseimbangan

Bank Indonesia menyatakan kebijakannya tidak hanya bertumpu pada SRBI. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut bank sentral juga membeli SBN pemerintah di pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun sampai 4 Mei 2026 dan menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp427,9 triliun.

BI juga menahan suku bunga acuan di level 4,75% selama tiga bulan berturut-turut sambil menjaga agar pasar tetap memiliki likuiditas. Perry menegaskan rupiah saat ini masih undervalued meski ekonomi domestik tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I/2026.

Di saat yang sama, BI tetap menjalankan intervensi secara penuh, termasuk di pasar luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Langkah itu menunjukkan bahwa SRBI hanya satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga rupiah tetap stabil.

Agresivitas penyerapan mulai mereda

Namun, laju penyerapan lewat SRBI sendiri mulai melandai. Pada lelang 13 Mei, serapan tercatat Rp22 triliun, lebih rendah dari 8 Mei yang mencapai Rp30 triliun dan 24 April sebesar Rp45,5 triliun.

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto melihat penurunan agresivitas ini sejalan dengan net ekspor pada Maret 2026 yang melebar dari impor. Menurut dia, cadangan devisa masih tinggi dan memadai untuk menopang intervensi nilai tukar.

Myrdal menilai SRBI tetap berguna untuk menarik modal domestik maupun valas, terutama saat permintaan dolar meningkat pada musim haji dan repatriasi dividen korporasi. Meski begitu, ia juga mengingatkan bahwa penyerapan likuiditas yang terlalu besar dapat menahan bank untuk lebih agresif menyalurkan kredit ke dunia usaha.

Source: finansial.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer