Pertamina Patra Niaga menyiapkan skema cadangan untuk menjaga pasokan energi rumah tangga di Papua Barat bila LPG terganggu. Opsi yang disiapkan adalah peralihan sementara ke minyak tanah, dengan fokus utama pada wilayah yang konsumsi LPG-nya paling tinggi.
Langkah itu bukan skenario utama, melainkan mitigasi jika kelangkaan LPG benar-benar terjadi. Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Barat, Ahmad Sofyan Halim, menegaskan cadangan tersebut disiapkan agar kebutuhan masyarakat tetap berjalan tanpa gangguan yang berarti.
Tiga wilayah jadi fokus utama
Jika skema ini harus dijalankan, prioritas penyaluran akan diarahkan ke Manokwari, Fakfak, dan Teluk Bintuni. Ketiga daerah itu dipilih karena menjadi wilayah dengan konsumsi LPG paling besar di Papua Barat.
Dengan pola seperti itu, suplai minyak tanah dipakai sebagai penyangga sementara agar rumah tangga di daerah bertekanan tinggi tetap mendapat pasokan energi. Pertamina Patra Niaga menyebut pendekatan ini penting supaya dampak gangguan LPG tidak langsung dirasakan masyarakat.
Hitungan cadangan sudah disiapkan
Kebutuhan minyak tanah untuk mitigasi dihitung dari realisasi konsumsi LPG sebesar 336,8 metrik ton. Dalam perhitungan yang dipakai, 1 metrik ton LPG setara 1,96 kiloliter, sedangkan 1 kiloliter minyak tanah setara 0,8 metrik ton LPG.
Dari dasar itu, kebutuhan tambahan diperkirakan mencapai 421 kiloliter untuk periode tiga bulan. Sofyan menyebut stok minyak tanah masih berada dalam kondisi surplus jika skenario peralihan sementara ini diterapkan.
Setelah kebutuhan mitigasi dimasukkan, total penyaluran diperkirakan mencapai 6.375 kiloliter. Jumlah tersebut masih berada di bawah kuota triwulanan yang tersedia, sehingga ruang pasokan dinilai masih aman untuk dijalankan.
Kuota 2026 masih memberi ruang
Pada 2026, kuota minyak tanah untuk tujuh kabupaten di Papua Barat tercatat 27.182 kiloliter. Angka itu setara sekitar 6.796 kiloliter kebutuhan per tiga bulan, sementara realisasi penyaluran selama Januari-April 2026 disebut mencapai 7.898 kiloliter.
Kuota tersebut juga naik 2.066 kiloliter dibanding 2025 yang sebesar 25.116 kiloliter. Selain itu, realisasi penyaluran selama Januari hingga April 2026 disebut berada di angka 29 persen dari total kuota yang tersedia.
Sebaran alokasi per daerah
Alokasi minyak tanah di Papua Barat tersebar di beberapa wilayah dengan porsi berbeda. Manokwari memperoleh 11.469 kiloliter, Fakfak 5.908 kiloliter, dan Teluk Bintuni 3.626 kiloliter.
Sisa alokasi dibagi ke Kaimana sebanyak 2.800 kiloliter, Manokwari Selatan 1.429 kiloliter, Teluk Wondama 1.274 kiloliter, dan Pegunungan Arfak 676 kiloliter. Dengan sebaran itu, Pertamina Patra Niaga menyiapkan cadangan operasional agar masyarakat tidak mengalami kesulitan pasokan energi jika tekanan LPG muncul akibat kondisi geopolitik global.
Source: www.viva.co.id






