Musim semi di Korea Selatan juga menjadi waktu ketika meja makan dipenuhi hidangan yang terasa segar, hangat, dan dekat dengan bahan musiman. Di antara yang paling menarik perhatian ada jjukkumi-bokkeum, daege-jjim, kkomak, jogi-gui, jjolmyeon, bibimbap, bom namul, hwajeon, ttalgi, bingsu, dan mulhoe.
Menariknya, banyak dari menu ini tidak hanya dicari karena rasanya, tetapi juga karena kedekatannya dengan tradisi lokal. Sejumlah hidangan kerap muncul dalam suasana piknik, festival, dan kebiasaan makan sehari-hari saat udara mulai menghangat.
Menu laut yang paling banyak diburu saat udara mulai hangat
Salah satu sajian yang sering disebut saat musim semi adalah jjukkumi-bokkeum, yakni tumis gurita kecil berbumbu pedas. Hidangan ini populer di Seoul, terutama di kawasan Dongdaemun, dan dianggap paling nikmat pada Maret hingga Mei karena gurita kecil sedang berada pada puncak kelezatannya serta memiliki telur yang lebih melimpah.
Pilihan laut lain yang tidak kalah menonjol adalah daege-jjim, kepiting raja atau kepiting salju kukus yang banyak dicari di wilayah pesisir timur seperti Yeongdeok dan Uljin. Dagingnya lembut dan punya rasa manis alami, lalu sering dimakan bersama nasi hangat yang dimasukkan ke dalam cangkang kepiting.
Kkomak juga erat dengan musim ini. Kerang dara atau kerang bulu yang umum ditemukan di pantai barat Korea ini memang lebih kuat panennya pada musim dingin, tetapi tetap banyak dinikmati di awal musim semi untuk membantu memulihkan stamina setelah cuaca dingin.
Jogi-gui melengkapi daftar hidangan laut yang kerap hadir pada periode ini. Ikan croaker kuning segar itu dipanggang hingga kulitnya renyah, lalu biasa disantap bersama nasi hangat agar terasa lebih mengenyangkan dan memberi energi.
Hidangan segar yang cocok saat suhu mulai naik
Ketika cuaca mulai lebih hangat, jjolmyeon sering menjadi pilihan yang dicari. Mi dingin khas Incheon ini punya tekstur kenyal, lalu disajikan dengan saus gochujang dan cuka bersama tauge, wortel, serta timun yang memberi sensasi pedas, manis, dan asam sekaligus.
Bibimbap juga memiliki kaitan kuat dengan musim semi karena kerap memakai sayuran liar yang tumbuh pada periode ini. Beberapa bahan yang sering dipakai antara lain naeng-i, dalrae, ssuk, dan gosari, lalu semuanya dicampur dengan nasi, telur, daging, dan saus gochujang.
Kelompok sayuran liar itu dikenal sebagai bom namul. Sayuran ini biasanya hanya direbus sebentar, kemudian diberi minyak wijen agar aromanya keluar dan disajikan sebagai banchan atau lauk pendamping yang ringan.
Kudapan tradisional yang dekat dengan budaya musim semi
Di antara makanan yang paling mencerminkan suasana musim semi adalah hwajeon. Kue tradisional dari tepung beras ketan ini dihias kelopak bunga musim semi dan sering muncul saat festival, terutama pada Samjitnal, ketika masyarakat piknik sambil menikmati bunga yang sedang mekar.
Teksturnya kenyal dan aromanya lembut, sedangkan rasa manisnya biasanya berasal dari madu atau gula cair yang dioleskan di permukaan kue. Dalam tradisi hwajeon nori, kudapan ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari cara menikmati alam saat musim semi datang.
Buah dan pencuci mulut yang ikut meramaikan musim
Ttalgi atau stroberi menjadi salah satu daya tarik penting pada musim semi di Korea Selatan. Buah ini dikenal punya tekstur lembut dan rasa sangat manis, sehingga banyak kafe mengolahnya menjadi kue, sandwich, dan minuman selama periode Maret hingga Mei.
Saat suhu mulai naik, bingsu tetap menjadi pencuci mulut yang populer. Es serut halus ini biasanya disajikan dengan susu kental manis, sirup, dan aneka topping seperti buah segar, kue beras, kacang merah, hingga varian modern seperti teh hijau, mangga, ubi ungu, dan cokelat.
Pilihan berkuah dan segar yang melengkapi daftar
Mulhoe menawarkan sisi lain dari hidangan musim semi di Korea Selatan. Kuliner asal Pohang ini menyajikan seafood mentah seperti ikan, cumi-cumi, abalone, dan teripang dalam kuah pedas-manis, lalu biasa dimakan dengan nasi putih atau mi guksu.
Ragam menu tersebut memperlihatkan bahwa musim semi di Korea Selatan tidak hanya identik dengan pemandangan bunga, tetapi juga dengan bahan pangan yang mengikuti ritme alam. Dari jjukkumi-bokkeum yang pedas, bibimbap dengan sayuran liar, hingga hwajeon dan stroberi yang lekat dengan musim, semua memberi gambaran tentang bagaimana makanan musiman tetap memegang peran penting dalam budaya makan setempat.
