5 Tanda Luka Emosional dari Eggshell Parenting yang Bisa Terbawa Dewasa

Author: Redaksi Android62

Orang yang tumbuh dengan orang tua beremosi sulit diprediksi dapat membawa rasa siaga hingga dewasa. Mereka kerap memantau nada bicara, ekspresi, dan perubahan suasana untuk menghindari kemungkinan konflik.

Pola ini dapat memengaruhi cara seseorang mengatur emosi serta membangun kedekatan dengan orang lain. Dampaknya juga bisa muncul dalam hubungan pribadi maupun situasi kerja ketika seseorang terus mencari tanda ketegangan.

Gambaran Tanda yang Dapat Muncul

Tanda Gambaran yang Muncul
Terlalu waspada Terus mencari tanda konflik, ketegangan, atau ledakan emosi.
Ingin menyenangkan orang lain Mengabaikan kebutuhan pribadi agar orang lain tidak marah.
Sulit mengekspresikan emosi Menekan atau meragukan perasaan sendiri.
Merasa bertanggung jawab Merasa harus menjaga perasaan orang di sekitar.
Tidak nyaman dengan orang tua Merasa tegang saat bersama orang tua yang sensitif secara emosional.

Eggshell parenting menggambarkan pola asuh ketika emosi, respons, dan perilaku orang tua tidak konsisten. Istilah ini berkaitan dengan ungkapan walking on eggshells, yaitu perasaan harus sangat berhati-hati dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Psikoterapis Anna Hindell mengatakan kepada Parents bahwa pola tersebut tampak saat suasana hati tidak stabil dan ledakan emosi orang tua membuat anak selalu waspada. Anak dapat kesulitan memahami pemicu kemarahan tersebut, sehingga rasa aman di rumah terganggu.

5 Tanda yang Perlu Diperhatikan

1. Terlalu Waspada

Kewaspadaan Berlebihan dapat membuat seseorang terbiasa mengamati ruangan dan membaca perubahan kecil pada orang lain. Kebiasaan itu berkembang sebagai upaya mengantisipasi konflik atau ledakan emosi yang dahulu sulit diperkirakan.

2. Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain

Seseorang mungkin terus memantau kebutuhan dan suasana hati orang di sekitarnya agar tidak memicu kemarahan. Upaya menyenangkan orang lain ini dapat membuat pendapat serta kebutuhan emosional pribadi tidak mendapat ruang.

3. Sulit Mengekspresikan Emosi Sendiri

Psikolog klinis Noelle Santorelli menjelaskan bahwa anak dengan orang tua yang mudah meledak dapat belajar menekan perasaannya. Mereka juga dapat meragukan perasaan sendiri, termasuk saat kecewa, alih-alih mengakuinya sebagai emosi yang wajar.

4. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain

Anak dapat terbiasa memastikan orang tua merasa puas, terutama ketika orang tua membutuhkan perhatian emosional ekstra. Pola ini berisiko berlanjut menjadi rasa bersalah atas emosi orang lain, padahal setiap orang memiliki tanggung jawab atas emosinya sendiri.

5. Tidak Nyaman Bersama Orang Tua

Ketegangan saat bersama orang tua dapat bertahan ketika seseorang pernah hidup dengan sosok yang sangat sensitif secara emosional. Rasa tidak nyaman itu muncul karena interaksi terasa menuntut kehati-hatian yang tinggi.

Pola pengasuhan ini juga dapat berkaitan dengan Kelekatan Anak yang cemas atau menghindar dalam hubungan. Ada yang takut diabaikan dan tidak dicintai, sementara yang lain sulit mengandalkan orang lain atau terbuka secara emosional.

Mengenali tanda-tanda tersebut dapat membantu seseorang memahami pola yang dialami sejak masa kecil. Kesadaran itu menjadi langkah awal agar pengalaman yang menyakitkan tidak diteruskan dalam hubungan keluarga berikutnya.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru