Lampu strobo dan sirine di kendaraan pribadi kembali menjadi sorotan karena dinilai ikut memperkuat budaya jalan raya yang tidak setara. Jusri Pulubuhu menilai pembiaran terhadap fasilitas semacam itu menunjukkan keinginan mendapat perlakuan khusus tanpa dasar yang jelas, dan hal tersebut berpengaruh langsung pada rasa saling percaya antarpengguna jalan.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) itu melihat masalah ini bukan sekadar soal kendaraan tertentu yang ingin lebih cepat lewat. Ketika ada kesan bahwa sebagian orang bisa menembus antrean atau meminta prioritas, disiplin lalu lintas ikut melemah dan suasana di jalan menjadi makin sulit diatur.
Eksklusivitas di jalan dianggap memicu kekacauan
Jusri menilai kemacetan di Indonesia tidak cukup dijelaskan hanya melalui jumlah kendaraan atau sempitnya ruas jalan. Menurut dia, ada faktor lain yang sering diabaikan, yaitu perilaku oknum pejabat dan aparat negara yang menuntut hak istimewa di ruang publik.
Pandangan itu membuat persoalan lalu lintas tampak bukan hanya urusan teknis, melainkan juga soal etika. Saat sebagian pengguna jalan merasa berhak diperlakukan berbeda, upaya membangun ketertiban bersama justru terganggu.
Ia menegaskan bahwa contoh buruk dari aparatur negara dapat menjadi pemicu yang lebih besar daripada sekadar pelanggaran biasa. “Mereka mentang-mentang berada di bawah instansi tertentu, dengan simbol-simbolnya, mereka minta eksklusifitas,” ujar Jusri.
Dampaknya paling terasa saat arus menyempit
Menurut Jusri, perilaku eksklusif paling mudah terlihat di titik penyempitan lajur dan lokasi macet kronis. Di tempat seperti itu, pengaturan arus tidak bisa berjalan baik bila para pengendara enggan saling memberi ruang.
Ia mencontohkan metode resleting atau zipper method yang pada dasarnya membutuhkan kedisiplinan dan kesediaan bergantian masuk lajur. Namun pola tersebut menjadi sulit diterapkan ketika ada kendaraan yang ingin mendahului atau menuntut jalan lebih dulu.
Akibatnya, arus kendaraan menjadi tidak seimbang dan kemacetan makin sulit diurai. Jusri menilai masalahnya bukan semata pada pengendara biasa, sebab perilaku yang tidak tertib juga datang dari mereka yang seharusnya memberi teladan.
Budaya meniru membuat contoh buruk cepat menyebar
Selain persoalan di jalan, Jusri juga memandang perilaku berkendara sebagai pantulan dari kebiasaan sosial yang lebih luas. Ia menyebut masyarakat Indonesia cenderung meniru gaya hidup dan perilaku para pemimpinnya, sehingga contoh yang salah di ruang publik mudah ditiru oleh orang lain.
“Habit kita ini duplikasi. Sudah kesadaran rendah, melihat itu adalah pembelajaran yang paling efektif bagi kita sebagai peniru,” kata Jusri. Dari sini terlihat bahwa ketidaktertiban tidak berdiri sendiri, melainkan ikut dipelihara oleh lingkungan yang membiarkan pelanggaran terus terjadi.
Saat pelanggaran dibiarkan, batas antara hak dan kewajiban di jalan menjadi kabur. Kepatuhan akhirnya dipandang sebagai pilihan, padahal lalu lintas hanya bisa tertib jika aturan berlaku sama bagi semua orang.
Etika berkendara dinilai mencerminkan karakter
Jusri juga menilai cara seseorang berada di jalan raya sering memperlihatkan karakter dasarnya secara jujur. Karena itu, disiplin berlalu lintas tidak bisa dipisahkan dari integritas sosial dan sikap menghormati ruang publik.
Ia bahkan mengaitkan kondisi jalan dengan gambaran yang lebih besar tentang perilaku masyarakat. “Kalau kita mau lihat bangsa, lihat saja cara mereka berada di jalan raya,” tutur Jusri.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kemacetan dan kekacauan lalu lintas tidak cukup ditangani dengan pendekatan teknis semata. Penambahan infrastruktur atau penertiban sesaat tetap akan terbatas jika sikap pejabat, aparat, dan pengguna jalan tidak ikut berubah.
Di titik inilah sorotan terhadap strobo, sirine, dan permintaan jalur prioritas menjadi penting, karena semua itu berkaitan dengan kebiasaan memberi ruang istimewa pada situasi yang seharusnya setara. Selama praktik semacam itu masih dibolehkan, etika berbagi jalan akan terus melemah dan ketertiban sulit tumbuh sebagai kebiasaan bersama.







