Embun Upas di Dieng Ternyata Dipicu Banyak Faktor, Bukan Hanya Udara Dingin

Embun upas di Dataran Tinggi Dieng tidak muncul hanya karena udara dingin semata. Fenomena ini terbentuk dari gabungan kondisi geografi, bentuk cekungan wilayah, angin dingin pada puncak musim kemarau, dan langit cerah tanpa tutupan awan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Aris Pramudia, menjelaskan bahwa kombinasi faktor itu membuat suhu permukaan tanah turun lebih cepat pada malam hingga dini hari. Dalam situasi tertentu, suhu bisa jatuh sampai titik beku dan memunculkan frost yang oleh warga setempat dikenal sebagai embun upas atau embun es.

Dieng memang berada di wilayah yang mudah dingin ekstrem

Wilayah Dieng berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Posisi itu membuat tekanan dan kerapatan udara lebih tipis dibandingkan dataran rendah, sehingga suhu ekstrem lebih mudah terasa terutama pada dini hari.

Bentuk wilayah yang cekung juga memperburuk kondisi tersebut. Udara dingin mengendap di dasar cekungan dan terjebak di sana, sehingga tidak mudah mengalir keluar dan memperkuat pembekuan di area tertentu.

Angin tenang dan langit cerah ikut mempercepat frost

Aris menyebut tiupan angin pada puncak musim kemarau ikut membawa udara dingin ke kawasan itu. Saat langit cerah tanpa awan dan angin cenderung tenang pada dini hari, pelepasan panas dari permukaan tanah berlangsung lebih cepat.

Kondisi ini membuat frost lebih mudah terbentuk di titik-titik tertentu. Karena itu, embun upas di Dieng dipandang sebagai hasil interaksi banyak unsur cuaca dan bentuk lahan, bukan satu penyebab tunggal.

Petani menanggung dampak paling langsung

Fenomena ini bukan sekadar pemandangan khas dataran tinggi. Embun upas telah merusak tanaman pertanian setempat, terutama kentang dan berbagai jenis sayuran lainnya.

Kerusakan tanaman membuat petani perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak awal. Aris menekankan bahwa penanganan frost harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan jenis tanaman yang ditanam di kawasan tersebut.

Sejumlah langkah perlindungan disarankan

Beberapa cara dapat digunakan untuk mengurangi dampak frost pada tanaman hortikultura dan perkebunan di Dieng. Langkah-langkah itu mencakup water sprinkling, pemanasan langsung, mengaduk udara atau meniupkan angin buatan, naungan tanaman, serta mulsa atau penutup tanah.

LangkahTujuanKeterangan
Water sprinklingMelindungi tanaman dari frostAir disemprotkan ke tanaman
Pemanasan langsungMengurangi dampak suhu bekuDiterapkan pada skala luas tertentu
Mengaduk udara atau meniupkan angin buatanMenciptakan sirkulasi udaraMembantu udara dingin tidak terlalu mengendap
Naungan tanamanMemberi perlindungan tambahanMembantu mengurangi paparan langsung
Mulsa atau penutup tanahMenjaga kelembapan dan suhu tanahJuga membantu mencegah gulma

Aris menyarankan agar kentang, sayuran, teh, dan komoditas dataran tinggi lainnya tetap dikembangkan di Dieng. Namun, pengelolaannya perlu dibarengi antisipasi terhadap frost yang bisa muncul pada waktu-waktu tertentu.

Berbeda dengan Cartenz, kebutuhan penanganannya tidak sama

Dalam penjelasannya, Aris juga membandingkan kondisi Dieng dengan Cartenz di Papua Tengah. Menurutnya, Cartenz tidak memiliki potensi untuk pertanian karena vegetasi yang tumbuh hanya lumut.

Di kawasan itu, teknologi modifikasi cuaca atau TMC untuk salju dinilai penting untuk melestarikan salju abadi yang terus menyusut. Sementara di Dieng, penerapan TMC bukan untuk menambah volume salju, melainkan untuk mengantisipasi terjadinya frost.

Perbedaan tujuan ini menunjukkan bahwa penanganan embun upas di Dieng dan salju abadi di Cartenz berada pada kebutuhan yang berbeda. Di Dieng, persoalan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara pertanian dan pariwisata karena frost bisa menjadi ancaman sekaligus daya tarik kawasan tersebut.

Berita Terkait