Pasar kini menilai rupiah bukan hanya sedang menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga menanggung beban dari arah kebijakan domestik yang dianggap belum sepenuhnya sejalan. Di tengah kondisi itu, kurs sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS di pasar offshore.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyebut situasi ini sebagai ujian atas kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia. Ia menilai fundamental domestik masih relatif baik karena inflasi terkendali, perbankan sehat, dan pertumbuhan ekonomi tetap positif, tetapi pelaku pasar membaca persoalan lebih luas dari sekadar indikator utama.
Tekanan dari luar dan dari dalam
Fakhrul menjelaskan bahwa rupiah ikut tertekan oleh faktor eksternal yang cukup kuat. Geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya imbal hasil US Treasury membuat posisi mata uang Garuda semakin berat.
Namun, tekanan itu tidak berdiri sendiri. Menurut dia, pasar juga melihat adanya ketidakpastian dari dalam negeri yang membuat respons terhadap guncangan global menjadi lebih sensitif.
Dalam pembacaan pasar, yang dipertanyakan bukan hanya kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga ada tidaknya jangkar kebijakan yang cukup kuat. Karena itu, kredibilitas dan konsistensi kebijakan menjadi sorotan utama ketika lingkungan global makin volatil dan cenderung inflationary.
Fiskal dan moneter dinilai tidak sepenuhnya sinkron
Fakhrul menilai ada ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Saat fiskal menahan kenaikan harga demi menjaga inflasi tetap rendah, beban yang lebih besar justru bergeser ke Bank Indonesia dan rupiah di pasar.
Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih hati-hati terhadap aset berisiko. Ketika arah fiskal dan moneter dianggap tidak selaras, tekanan terhadap nilai tukar cenderung lebih cepat terlihat dibandingkan indikator lain.
Salah satu titik yang disorot adalah kebijakan mempertahankan subsidi BBM ketika harga minyak dunia naik dan rupiah melemah terhadap dolar AS. Kebijakan itu memang membantu menahan tekanan sosial dan menjaga daya beli, tetapi konsekuensinya kurs menjadi penyangga utama tekanan ekonomi.
Tekanan harga berpindah ke kurs
Dalam situasi normal, kenaikan harga energi global akan menyebar ke inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar. Tetapi ketika penyesuaian harga di dalam negeri dibuat sangat hati-hati, tekanan itu tidak hilang, melainkan berpindah ke rupiah.
Fakhrul menyebut rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak lenyap dan justru berpindah ke kurs.
Akibatnya, stabilitas harga jangka pendek dapat dibayar dengan tekanan yang lebih besar di pasar valuta asing. Itulah sebabnya pelemahan rupiah terlihat lebih ekstrem dibandingkan sejumlah indikator ekonomi lain yang masih tergolong stabil.
Pasar menguji arah kebijakan
Fakhrul juga mengaitkan kondisi ini dengan teori Dornbusch Overshooting. Dalam teori tersebut, harga domestik bergerak kaku sementara pasar keuangan berubah cepat, sehingga nilai tukar bisa bergerak lebih jauh dari fundamentalnya.
Fenomena seperti ini dinilai lazim terjadi di negara berkembang yang berusaha menjaga stabilitas harga dalam jangka pendek. Saat kebijakan domestik terlalu kuat menahan inflasi, pasar valuta asing kerap menanggung beban paling besar.
Pemerintah kini berada dalam dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal. Pilihan untuk menahan penyesuaian harga energi bisa dipahami dari sisi sosial dan politik, tetapi konsekuensinya tekanan ekonomi menjadi terkonsentrasi di pasar keuangan.
Selama pasar masih melihat jarak antara arah fiskal, moneter, dan penyesuaian harga energi, rupiah berpotensi tetap menjadi variabel yang paling cepat merespons ketidakpastian ekonomi. Kondisi itu membuat mata uang Garuda tetap berada di pusat perhatian ketika tekanan global dan kebijakan dalam negeri sama-sama belum memberi ruang yang nyaman.
Source: www.suara.com






