Sukun Dinilai Punya Gizi Tinggi dan Tahan Iklim, Begini Peluang Besarnya

Author: Redaksi Android62

Sukun semakin menarik perhatian karena dinilai memenuhi banyak syarat sebagai pangan masa depan. Tanaman ini disebut bergizi tinggi, minim antinutrisi, bermanfaat bagi kesehatan, serta dibudidayakan dengan emisi karbon rendah dan cukup tahan terhadap perubahan iklim.

Guru besar Fakultas Pertanian IPB University, Edi Santosa, menilai karakter tersebut membuat sukun layak masuk kategori superfood. Penilaian itu didasarkan pada berbagai kajian dan pengamatan lapangan yang menempatkan sukun sebagai salah satu pangan lokal strategis di tengah ancaman krisis iklim dan kebutuhan gizi yang terus meningkat.

Keunggulan gizi yang menonjol

Dari sisi nutrisi, sukun memiliki sejumlah kelebihan dibanding sumber karbohidrat lain. Pangan ini kaya serat, memiliki indeks glikemik lebih rendah, dan mengandung vitamin C.

Pada beberapa penelitian, sukun juga ditemukan mengandung vitamin A, folat, zat besi atau Fe, serta seng atau Zn. Kandungan itu dinilai penting untuk mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.

Aspek Keterangan
Serat Tinggi
Indeks glikemik Lebih rendah
Vitamin dan mineral Vitamin C, serta pada beberapa penelitian ditemukan vitamin A, folat, Fe, dan Zn
Manfaat yang disorot Mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting

Edi juga menyebut sukun memiliki nutrisi yang lebih baik dibanding singkong. Namun, ia menegaskan bahwa setiap bahan pangan punya keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Tangguh di berbagai kondisi lingkungan

Selain unggul dari sisi gizi, sukun juga dinilai adaptif terhadap kondisi iklim. Tanaman tahunan berbentuk pohon ini dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan tinggi maupun di wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur.

Dengan perawatan yang relatif minim, pohon sukun mampu berproduksi hampir sepanjang tahun. Sifat ini membuatnya relevan dibahas sebagai tanaman pangan masa depan di tengah tekanan perubahan iklim.

Peluang ekonomi yang belum habis digarap

Potensi sukun tidak berhenti pada ketahanan iklim dan nilai gizinya. Edi menilai nilai ekonominya juga besar, terutama bila dikembangkan menjadi tepung.

Tepung sukun dapat diolah menjadi berbagai produk pangan modern, mulai dari roti, mi, hingga aneka makanan olahan lain. Bentuk ini membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri pangan.

Untuk pasar ekspor dalam bentuk buah segar, promosi tambahan masih diperlukan agar masyarakat internasional mengenal cara mengolah dan mengonsumsi sukun. Edi menilai keberhasilan nangka menembus pasar global bisa menjadi contoh bagi pengembangan komoditas lokal Indonesia.

Promosi menjadi kunci pengenalan

Menurut Edi, penguatan promosi, budaya pangan, dan industri menjadi kebutuhan utama agar sukun lebih dikenal. Berbagai aktivitas publik dinilai bisa membantu memperbesar perhatian pada komoditas ini.

“Festival atau perlombaan berbasis sukun dapat menjadi langkah untuk meningkatkan popularitasnya. Media massa juga memiliki peran penting dalam mengenalkan sukun sebagai superfood Indonesia,” pungkasnya.

Di tengah kebutuhan mencari pangan lokal yang bergizi dan tahan terhadap tekanan iklim, sukun tampil sebagai komoditas yang menyimpan dua kekuatan sekaligus. Selain relevan untuk ketahanan pangan, tanaman ini juga masih menyisakan ruang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru