Indonesia dan AS Geser Fokus ke Inovasi, Mineral Kritis Jadi Pusat Kemitraan Baru

Author: Redaksi Android62

Indonesia dan Amerika Serikat mulai mengarahkan kerja sama ekonomi ke sektor yang lebih strategis, dengan mineral kritis, logam tanah jarang, dan semikonduktor sebagai fokus utama. Arah baru ini muncul karena kedua negara ingin memperkuat kolaborasi di industri masa depan yang bertumpu pada teknologi tinggi.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo dengan President East-West Center Celeste A. Connors di Honolulu, Hawaii. Pada 9 Juli 2026, kedua pihak membahas peluang kerja sama yang tidak lagi terbatas pada perdagangan dan investasi, melainkan meluas ke inovasi, teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Kerja sama yang diarahkan ke industri bernilai tambah

Skema yang dijajaki meliputi forum kebijakan, seminar strategis, riset bersama, dan program peningkatan kapasitas. Seluruhnya diarahkan untuk membangun ekosistem industri berbasis teknologi tinggi yang lebih kuat dan lebih siap masuk ke rantai pasok global.

Langkah itu juga sejalan dengan agenda hilirisasi nasional. Indonesia ingin memperkuat posisinya di sektor-sektor yang memiliki nilai tambah besar, terutama pada komoditas dan teknologi yang kini menjadi arena persaingan ekonomi dunia.

Indroyono Soesilo menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi berbasis teknologi. Ia menilai pengembangan mineral kritis, logam tanah jarang, dan semikonduktor dapat menjadi ruang kemitraan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan dunia usaha.

Pokok Kerja Sama Bentuk Kolaborasi Tujuan
Mineral kritis, logam tanah jarang, semikonduktor Forum kebijakan, seminar strategis, riset bersama, peningkatan kapasitas Mendorong inovasi dan industri berbasis teknologi tinggi
Hilirisasi nasional Penguatan ekosistem industri Memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global

Jejaring East-West Center yang sudah lama terhubung dengan Indonesia

East-West Center berdiri sejak 1960 di kampus University of Hawaii at Manoa dan dikenal sebagai lembaga yang mendorong dialog kebijakan, riset, serta kerja sama antara AS, Asia, dan Pasifik. Hubungannya dengan Indonesia juga terbangun cukup lama melalui jejaring alumni dan berbagai kegiatan akademik.

Hingga kini, lebih dari 3.750 alumni Indonesia tercatat menjadi bagian dari jaringan East-West Center. Mereka tersebar di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, akademisi, dunia usaha, media, hingga seni.

Lembaga itu juga rutin mengkaji perkembangan Indonesia. Data yang dimilikinya menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital Indonesia mencapai sekitar US$ 404 miliar pada 2024 atau setara 36 persen dari total transaksi digital ASEAN.

Pada periode yang sama, Indonesia juga tercatat memiliki 86 pusat data pada Juni 2025, jumlah terbanyak di Asia Tenggara. Di sisi lain, ada 443 perusahaan AS yang beroperasi di Indonesia hingga Juli 2025.

Hubungan antarmasyarakat ikut menguat

Relasi Indonesia dan AS tidak hanya bergerak lewat jalur ekonomi. Pada 2023, sekitar 418.000 wisatawan AS berkunjung ke Indonesia, sementara 8.348 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di AS pada 2024.

Kerja sama East-West Center dengan Indonesia juga telah masuk ke ranah riset lapangan. Salah satu contohnya adalah penelitian sosial dan lingkungan di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, bersama Universitas Gadjah Mada.

Rangkaian kerja sama itu memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan AS kini bergerak ke fase yang lebih luas dan lebih teknis. Dari Hawaii, kedua negara membuka ruang kolaborasi untuk membangun industri masa depan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru